Yadi pengusaha Roti asal Jatisrono Wonogiri
Yadi pengusaha Roti asal Jatisrono Wonogiri
Yadi pengusaha Roti asal Jatisrono Wonogiri

INFOWONOGIRI.COM-JATISRONO-Sebuah kesuksesan tidak akan datang secara tiba tiba. Kesuksesan bisa diraih dengan ketekunan, keuletan, kerja keras, penuh perjuangan pengorbanan dan pantang menyerah dalam menjalani setiap proses.

Prinsip hidup itu dipegang teguh oleh Yadi warga penduduk Desa Tangulangin Kecamatan Jatisrono Kabupaten Wonogiri ini. Yadi kini, bisa dibilang telah meraih sukses menjadi pengusaha roti “Fajar Prima Sari” beromset ratusan juta perbulan.

Siapa sih Yadi itu? Yadi adalah seorang lelaki kelahiran Wonogiri 23 Oktober 1975. Yadi memiliki seorang istri bernama Wagini bertempat tinggal di Dusun Sabuk RT 07 RW 04 Desa  Gunungsari Kecamatan Jatisrono Wonogiri.

Yadi-Wagini -baru- dikaruniai empat  anak. Anak pertama Muamar Faturrohman kelas 2 SMP N 1 Wonogiri, Fatimah Azahro kelas 2 SD Rumpun Muslim Jatisrono, ketiga Jaffar Ali Sidik kelas 1 SD Rumpun Muslim Jatisrono, keempat Zulfikar Al Altsari 1th.

Yadi adalah anak kedua dari empat bersaudara dari pasangan Jaiman Partorejo dan ibu Painem seorang petani. Yadi mengenyam pendidikan di SD Tanggulangin 1 Jatisrono lulus tahun 1987. Karena ekonomi keluarga Yadi tidak bisa melanjutkan ke sekolah SMP.

Yadi bekerja menjadi buruh bangunan di Jakarta. Tahun 1990 pulang melanjutkan MTs di Madiun Jatim. Yadi bisa melanjutkan sekolah, berkat mau ngenger (ikut orang) pemilik Yayasan Nurul Iman di Dusun Ngendut Desa Pucanganom Kebonsari Madiun.

Selama tiga tahun sekolah, Yadi bekerja membantu pemilik yayasan mengolah lahan pertanian. Setelah lulus MTs Yadi pulang ke Jatisrono dan melanjutkan sekolah di STM Pancasila 2 Jatisrono jurusan mesin industri, lulus tahun 1998.

Setelah itu yadi bekerja sebagai kondektur Bus PO Sri Mulyo Agung Plaosan Magetan, setahun. Mulai tahun 1999 belajar menjadi sales free land loper makanan ringan dengan sepeda motor. Sepeda motor yang digunakan hasil meminjam sodaranya.

Tahun 2000 dipertemukan dengan Wagini. Gadis sholehah idamannya asal Jatipurno itu kemudian diperistri. Tahun 2001 melanjutkan bekerja sebagai sales roti. Dagangan roti dari Solo diloper ke wilayah Jatisrono dan sekitarnya, dengan mobil Carry truntung (ST20).

Mulai saat itu ia perlahan tetapi pasti merintis jaringan. Setiap hari pelangannya bertambah dan terus berkembang. Tahun 2004 Yadi memberanikan diri mulai memproduksi  sendiri di rumah orang tuanya dengan membuat roti semir seharga @ Rp.500.

Omset penjualan 1 bulan kala itu sekitar Rp.8 juta-an. Dikerjakan oleh Yadi, istri dan adiknya. Proses produksi hanya bertahan 1 tahun. Tahun 2005 berhenti beralih beternak sapi dan kambing dengan modal Rp.20 juta.

Modal itu dibelanjakan kambing 40 ekor, ternak penggemukan dengan mengunakan pakan fermentasi hingga bisa berkembang 4 kali panen dan selalu mendapatkan untung. Pada tahun 2006 beralih beternak sapi. Kambing dijual untuk dibelikan 8 ekor sapi.

“Empat bulan panen, ternyata tidak sesuai harapan. Akhirnya bangkrut, kala itu hanya kembali separuh dari modal,” tutur Yadi berkisah. Akhirnya Yadi kembali membuat roti lagi mengunakan merek “Mutiara Prima”.

Kali ini Yadi melakukan terobosan melayani pesanan roti untuk pesta, hajatan, acara yasinan dll. Produk roti bolu gulung, mandarin, krumpul sebagai bingkisan tamu undangan.  Omset mulai naik. Yadi dan istri turun memasarkan. Ada 3 karyawan bagian produksi.

“Omset perbulan bisa mencapai Rp.100 juta. Setiap tahun berkembang terus.
Kala itu untuk operasional pemasaran mengunakan mobil carry tahun 1986. Setiap tahun omset naik. Karyawan terus bertambah. Saat ini sudah ada 27 karyawan,” kata Yadi.

Karyawan terdiri dari bagian produksi 20 orang, 6 orang sales tiga unit mobil box dan 1 unit mobil blind-fan (mini bus) untuk wilayah Wonogiri, Ponorogo, Madiun Magetan, Pacitan, Wonosari, Boyolali, dan Soloraya. “Omset perbulan mencapai Rp.250-300 Juta. Merk dagang “Mutiara Prima” memiliki 17 jenis produk roti kering dan basah,” ujarnya mantap. (nano/bagus-bersambung)

By Redaksi

Tinggalkan Balasan