infowonogiri.com – WURYANTORO –
Suyadi kecil memang Hobi dan Gemar dengan Seni Pewayangan ( Ringgit Purwo ) seni budaya adhi luhung penuh dengan petuah dan nasehat. Yadi semasa kecil bila menyaksikan pergelaran Wayang Kulit, sebelum pergelaran usai Yadi belum juga beranjak dari duduknya. Hampir disetiap pergelaran disekitar Wuryantoro Yadi dapat dipastikan selalu hadir. Tak heran walau masih duduk di kelas 3 SD pun Yadi telah hafal hampir semua tokoh-tokoh Wayang yang ada.
Semasa berdinas di Propinsi Banten, Suyadi hanya mampu mengembangkan bakat Dalangnya hanya sebatas didalam rumah saja, tidak seperti sekarang ini, yang mungkin dikarenakan lingkungan yang kurang mendukung saat itu. Semenjak berpindah tugas di Wonogiri, terutama sejak menjadi Anggoata POLSEK Wuryantoro, Suyadi mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan bakat Seni Pedalangannya.
Karena selain masyarakat telah mengenalnya, juga Pimpinan juga memberi motifasi dalam pengembangan menjadi profesional, namun tugas-tugas pokok harus di nomor satukan. Bermula semenjak 3 – 4 tahun yang lalu, semenjak AKP Nugroho, SH menjabat Kapolsek Wuryantoro Yadi mendapat dorongan dan motivasi untuk mengembangkan bakatnya, yang sekaligus saat ini Briptu Yadi mendapat kepercayaan menjadi Babinkamtibmas desa Pulutan Kulon dari Kapolsek, juga dimanapun pentas mendalang Visi dan Misi Polri sebagai Pengayom Masyarakat harus selalu disampaikan, pesan Kapolsek.
Semenjak menjadi dalang Profesional yang mualai laris, Briptu Yadi mendapat gelar menjadi ‘ KI EMPU ROMO YADI” yang mengandung arti , menjadi seoranga pemimpin yang mampu memperbaiki aklhak yang rusak. kemahiran Briptu Yadi dalam memainkan tokoh-tokoh wayang tidak pernah secara khusus bersekolah pedalangan secara formal, melainkan secara otodidak melalui kaset-kaset, vidio cd tokoh-tokoh dalang kondang seperti Ki Anom Suroto maupun Ki Narto Sabdo.
Ada yang unik dari keseharian Briptu Yadi, yakni kemanapun pergi selalu tidak mengenakan alas kaki, kecuali kalau sedang berdinas. Ki Empu Romo Yadi memberi penjelasan dan boleh dibilang wejangan, makna dari tidak mengenakan alas kaki tersebut yakni kita akan selalu dekat dengan dari apa kita dicipta, karena kita juga bakal kembali ke tanah, juga dipercaya dengan tidak mengenakan alas kaki akan dapat memperpanjang umur kita, papar mbah Yadi . [Djarot]


