Ini Fakta Penyebab Banjir Desa Songbledek Paranggupito

0 79

INFOWONOGIRI.COM-PARANGGUPITO-
Selama empat tahun belakangan ini, wilayah Desa Songbledek Kecamatan Paranggupito tidak pernah mengalami banjir. Sejak tahun 2017 sampai 2021 baru mengalami banjir pada Sabtu (30/2121).

Kepala Desa Songbledek Slamet Widodo memperkirakan penyebab terjadinya banjir lantaran curah hujan cukup tinggi dan lama, namun Luweng tempat pembuangan air tidak mampu menampung air secara bersamaan.

Asal tahu, Luweng adalah lubang yang menyerupai sumur alami di perbukitan atau pegunungan di wilayah Songbledek. Luweng tersebut berfungsi sebagai pori-pori bumi sekaligus sebagai saluran pembuangan air dari permukaan tanah perkampungan penduduk masuk ke dalam sungai bawah laut.

Luweng juga ada yang menyebut dengan istilah Song. Misalnya Songbanyu, Songbledek, Songputri dan lain lain. Luweng ada yang berada di perbukitan, ada yang berada di cekungan. Luweng yang berada di Cekungan ini yang biasanya berfungsi sebagai resapan air. Manakala Luweng ini tersumbat, maka terancam banjir pada saat musim penghujan.

Di wilayah Desa Songbledek, diperkirakan terdapat banyak ratusan Luweng atau Song. Semua Luweng tembus ke sungai bawah laut. Asal tahu Desa Songbledek adalah salah satu wilayah yang berada di perbukitan batu kapur, gamping, karang di wilayah tepi Pantai Selatan.

Wilayah ini pada musim kemarau sangat kekurangan air bersih. Air bersih bisa didapatkan dengan cara membeli dari wilayah Kecamatan lain, seperti Pracimantoro Wonogiri.

Atau dengan cara menampung air hujan dari atap rumah ke dalam bak penampungan yangbtwlah disiapkan. Sebab sangat jarang terdapat sumber mata air di wilayah Desa yang berbatasan dengan Gunungkidul Jogjakarta ini.

Sumber mata air bisa didapatkan dari sungai bawah tanah dengan kedalaman ratusan meter dari permukaan tanah atau bumi. Tidak semua orang mampu melakukan pembuatan Sumur Bor di wilayah ini.

Hemat penulis, bahkan sampai saat ini belum ada yang membuat sumur bor. Di Desa ini pernah mendapatkan anggaran dana sekira Rp.3 Milyar untuk mengangkat atau menyedot air bersih dari sungai bawah laut ke bak penampungan di permukaan bumi, namun gagal. Uangpun sirna. Menguap. (baguss)

error: Content is protected !!