Kenapa Porang? Memang Lebih Baik Dari Singkong, Telo Dkk ?

0 6.107

INFOWONOGIRI.COM-JATISRONO-Beberapa tahun belakangan Porang viral di dunia Maya. Bahkan mulai ramai dibicarakan dan diperjualbelikan. Kenapa dengan Porang?

Memang lebih baik? jika dibandingkan dengan singkong, ketela / telo, talas, girut, ganyong, gadung, dan tanaman umbi-umbian lain yang selama ini sudah jelas rasa dan manfaatnya?

Pada Sabtu (26/9/2020) Tim INFOWONOGIRI.COM mengunjungi kediaman Kepala Desa Jatisari Kecamatan Jatisrono, Teguh Subroto.

Saat itu Teguh sedang kedatangan tamu. Ada 7 orang. Terdiri dari Kades, Pelaku Usaha dan Petani. Kelompok petani asal Giritontro Kidul Sarimin dkk juga pernah hadir beberapa hari lalu. Antara lain bahas Porang.

Teguh kepada IW, menjelaskan bahwa Porang adalah salah satu solusi di masa pandemi C19. Maka budidayakanlah Porang.

Selama ini, menurutnya, petani dikenal sebagai profesi kolot. Tubuhnya hitam dan tidak punya uang. Karena itu, anak anak muda banyak yang tidak tertarik menjadi petani.

Teorinya sistem pemberdayaan sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM). Di wilayah Kabupaten Wonogiri dua hal itu tersedia ada.

Di Wonogiri banyak lahan tidur. Banyak pengangguran. Alias banyak pemuda dan orang tua “tidur”. Maka semua harus gagih bangun tidur. Kerja. Kerja. Kerja.

Porang dianggap bernilai ekonomis tinggi. Setelah tanam sampai usia satu tahun, petani bisa panen dua jenis. Pertama panen dari umbinya pada usia 1 tahun. Kedua bisa panen dari buahnya, yang dinamakan katak. “Katak itu bukan kodok, tapi buah Porang,” kata Teguh bercanda.

Panen katak bisa beberapa kali. Umbinya juga bisa dipanen beberapa kali dalam setahun. Tergantung kebutuhan. Tergantung keinginan ukuran umbi yang dibutuhkan.

Untuk usia tanam satu tahun ukuran umbi bisa sampai 2 kg. Bahkan bisa 4 Kg jika ditanam di lahan subur dan mendapkan perlakuan baik.

Hasil umbi Porang bisa diolah menjadi cip, tepung, makanan olahan. Sayangnya di Kabupaten Wonogiri belum ada yang mengolahnya. Baik home industri atau perusahaan.

Berikut harga umbi porang. Umbi mini ukuran 1 Kg Rp.110 ribu. Katak Rp.290.000 perkilogram. “Kenapa mahal katak, karena sekilo bisa mencapai 300 butir,” kata Teguh.

Ada hal menarik dari Porang ini. Kata Teguh bisa untuk mengusir monyet. Selama ini banyak tanaman di wilayah pegunungan dijarah monyet. “Monyet gak berani sama Porang. Karena gatel,” katanya. Maksudnya Porang bisa menyebabkan gatal-gatal.

Terpisah, Darmadi pengamat pertanian yang juga dosen di UNS mengatakan bahwa umbi Porang bisa digunakan sebagai bahan baku kosmetik. Pati Porang bisa untuk campuran bahan baku roti. “Contoh di negara Cina,” katanya.

Di Jawa Timur, kata Darmadi telah berdiri pabrik industri Porang. Saat ini suplay bahan bakunya kekurangan. Sehingga harganya relatif tinggi. Sehingga menurutnya wajar, jika saat ini nama Porang menggema.
Namun ketika bahan baku melimpah kemudian harga Porang menurun, itu adalah hukum ekonomi.

Untuk itu Darmadi mengingatkan, jangan sampai keberadaan Porang hanya sesaat. Seperti tanaman jemani dan gelombang cinta, dahulu. (Baguss)

error: Content is protected !!