Kalung Anti Corona Temuan Mentan, Dikritik DPR RI Asal Wonogiri

0 464

INFOWONOGIRI.COM-NASIONAL– Anggota DPR RI Komisi IV, Hamid Noor Yasin sangat menyayangkan upaya pemerintah yang sudah bekerja keras mengendalikan virus corona dengan menemukan berbagai produk baik itu obat maupun jamu, tetapi tidak dilakukan penjelasan dan komunikasi publik yang baik sehingga menimbulkan keributan sana dan sini.

“Saya mengapresiasi berbagai lembaga yang mencari dan menemukan produk obat maupun metode untuk mengendalikan virus corona. Tapi semua uji ilmiah beserta penjelasannya harus dilakukan secara seksama. sehingga tidak perlu menimbulkan kontroversial”, ucap Hamid.

Legislator Komisi IV asal Jateng IV ini menerima penjelasan Kementan, pemerintah menemukan produk dalam negeri yang efektif, efisien, murah untuk melawan virus corona. Yaitu Minyak Atsiri Eucalyptus yang mengandung 1,8 cineole sudah diuji terhadap virus corona (beta dan gamma corona) di lab biosecurity level 3 Kementan. Hasilnya mampu membunuh virus corona 80 -100 %.


Tetapi Politisi PKS ini menyarankan, sebaiknya Kementan, mesti mampu melakukan uji ilmiah maupun uji publik yang paten. Sehingga mendapat kepercayaan di masyarakat. Karena bila penemuan kalung aroma terapi produk dari Kementan ini bila dikatakan obat, maka harus melalui uji klinis kepada manusia sesuai prosedur penelitian obat.

“Upaya Kementan ini terlalu terburu-buru dalam merilis produk kalung aroma terapi yang masih tergolong jamu, bukan obat. Menjadi persoalan sudah ada klaim dapat menyembuhkan Covid-19. Tanpa penjelasan memadai, banyak pihak akan menyangka kelenik atau jimat”, ujar Hamid.

Hamid menyarankan, segala tindakan penyembuhan penyakit harus ketat dalam persoalan ilmiah dan uji klinis. Segala asumsi dan uji coba empiris yang tidak banyak dilakukan dapat membuat gaduh. Contoh prilaku analogi minyak Eucalyptus memiliki 1,8 cineole, lantas dapat diklaim merusak struktur protein (mpro) dari virus corona. Sehingga virus tidak bisa memperbanyak diri, lalu mati.

“Segala upaya penemuan yang tidak melalui uji klinis akan berhadapan pada perusahaan farmasi besar sekaligus kode etik kedokteran. Langkah Kementan memang seharusnya didukung untuk menemukan produk penyembuh dari dalam negeri. Tapi dukungan pemenuhan standard dan prosedur mesti dilalui dahulu. Baru merilis produknya”, tutup Hamid. (baguss)

error: Content is protected !!