DPR RI Asal Wonogiri Soroti Pemerintah Tak Libatkan Kementan

0 404


INFOWONOGIRI.COM-NASIONAL– Anggota DPR RI Komisi IV, Hamid Noor Yasin menanggapi ditunjuknya Menteri Pertahanan sebagai leading sector untuk memperkuat food estate dengan target 700 ribu hektare.


Legislator asal Jateng IV ini melihat tidak dilibatkannya Kementan dalam kebijakan besar terkait pangan merupakan kesalahan besar pertama pemerintah. Kesalahan utama adalah tidak membangun integrasi kedaulatan pangan yang melibatkan seluruh lembaga besar untuk mewujudkannya.


Karena saling kait mengkait. Antara KKP, Kementan, Kemenhut LH, Kemenprin, PU, dan LIPI. Merupakan lembaga-lembaga besar. Bila bersinergi akan mewujudkan seluruh infrastruktur kedaulatan pangan dari hulu hingga hilir.


“Saya tidak terlalu menyoal pemerintah menunjuk siapa koordinator food estate. Persoalan adalah, jangan sampai uang negara berhamburan tanpa bekas. Karena kegagalan memilih orang dan eksekusi kebijakan, amanat rakyat berat pertanggungjawabannya,” tandasnya.


Dalam forum diskusi, dipertanyakan, selama ini hanya sedikit waktu menikmati surplus hingga ekspor beras. Dua tahun, 1984 – 1986 surplus beras. Baru pada 1985, Indonesia memulai ekspor beras pertama kali ke Vietnam. Jumlah 100 ribu ton beras. Mampu bertahan sampai tahun 1986.


“Berbagai versi Indonesia surplus beras. Ekspor beras dengan berbagai argument. Itu tidak sesuai kenyataan. Buktinya setiap tahun kita impor beras tanpa henti. Hanya 2 tahun saja murni tanpa impor. Apakah beras solusi inti untuk mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan kita?” tanyanya.


Hamid memaparkan bentangan air Indonesia lebih luas dari daratan. Seharusnya menjadi sinyal. Yang hidup di air merupakan potensi menyuplai kebutuhan pokok pangan seluruh penduduk Indonesia. Beberapa Ilmuwan menyarankan Indonesia memperkuat perikanan baik tangkapan/budidaya harus dipertimbangkan dalam penyusunan kebijakan pangan nasional.


Jadikan ikan kebutuhan primer. Beras sebagai sekunder merupakan ide out of the box. Tapi solusi menarik untuk merubah pola kehidupan masyarakat Indonesia.

“Protein ikan sangat tinggi. Menjadikan rakyat cerdas. Akan menjadi perlawanan kuat terhadap ancaman stunting. Negara kita akan menjadi Lumbung Pangan yang benar. Bukan pencitraan,” pungkas Hamid. (baguss)

error: Content is protected !!