Defisit Pangan di Beberapa Propinsi, Jangan Impor! Supplai Dari Daerah Surplus

0 245

INFOWONOGIRI.COM-NASIONAL–Presiden mengumumkan defisit pangan (beras) di tujuh propinsi di Indonesia. Anggota DPR RI Asal Dapil Jawa Tengah IV, Hamid Noor Yasin meminta jangan impor pangan pasca pengumuman defisit pangan di beberapa propinsi. Karena defisit pangan di suatu propinsi di Indonesia, bila jalur distribusi logistik lancar, akan dapat ditambal dari daerah surplus.

Menurut Hamid saat ini bukan darurat untuk disikapi dengan mengimpor. Terpenting adalah penyikapan distribusi yang baik pada transportasi logistik antar propinsi menjadi sangat urgent terutama pada masa pandemi covid-19 seperti ini.

“Kondisi pangan saat ini persoalannya bukan masalah tingginya komoditas pangan saja. Namun untuk komoditas tertentu, para petani dan peternak menghadapi persolan murahnya harga. Sehingga mengancam kebangkrutan dunia usaha pertanian dan peternakan,” ucap Hamid.

Politisi PKS ini mencontohkan, ayam hidup di tingkat peternak, harganya terlalu murah dibandingkan biaya produksi (pakan). Bla dibandingkan dengan harga di pasar. Harga cabai terpuruk hingga Rp. 5 ribu. Hamid dilapori beberapa petani sentra cabai di Malang dan di Dompu. Ditengarai ada permainan tingkat pengepul (nakal) yang merusak harga jatuh cabai.

Untuk komoditas gula dan bawang putih, memang persoalannya harga tinggi yang menyusahkan konsumen. Bahkan pemerintah akan mengusulkan revisi HET (harga eceran terendah gula). “Dilema produk pangan, bila terlalu rendah mendzalimi petani & peternak. Bila terlalu tinggi menyusahkan rakyat. Jadi harus wajar”, ucap Hamid anggota Komisi IV DPR RI.

Legislator dari Wonogri Jateng ini menjelaskan, dari berbagai diskusi ilmiah lembaga kajian dan di kampus, stok pangan kita saat ini masih sangat aman hingga tiga bulan kedepan. Kementerian Pertanian (Kementan) memperkirakan produksi beras Indonesia pada Juni 2020 surplus 6,4 juta ton.

Perkiraan ketersediaan beras tersebut didasarkan pada produksi dan kebutuhan konsumsi bulanan, serta memperhitungkan stok. Stok akhir Maret 2020 terhitung 3,45 juta ton. Rinciannya stok dari Bulog 1,4 juta ton, penggilingan 1,2 juta ton, pedagang 754.000 ton, dan di Lumbung Pangan Masyarakat (LPM) 2,939 ton.

Hamid meminta kepada kementerian pertanian, agar janjinya sebagai sektor yang bertanggungjawab terhadap penyediaan pangan, mesti sesuai kenyataan akan persiapan berbagai strategi dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan, khusus pada situasi pandemi Covid-19.

“Bukti realisasi janji pemerintah adalah tidak impor pangan. Karena dengan penjelasan kesiapan, kecukupan stok dan rencana strategis itu, bila masih impor, berati membohongi rakyat. Saya berharap defisit di beberapa propinsi akan produk pangan tertentu, dapat ditambal dari propinsi lain yang surplus. Inilah fungsi negara hadir untuk rakyat,” tutup Hamid Noor Yasin. (baguss)

error: Content is protected !!