Pengasuh Ponpes BQ: Cadar, Cingkrang, Jidat Hitam & Berjenggot Boleh

0 670
Dhany Chandra Pengasuh Pondok Pesantren Baitul Quran (BQ) | Foto Baguss

INFOWONOGIRI.COM-KOTA-Pengasuh Pondok Pesantren Baitul Quran (BQ) Dhany Chandra mengatakan siapapun boleh mengenakan celana cingkrang, berjenggot dan berjidat hitam, bagi kaum muslimin. 

Warga Ngadirojo Wonogiri ini juga mengatakan, siapapun boleh memakai busana jilbab besar dan cadar (nikab), bagi kaum muslimah. Karena bungkus itu berkaitan agama. Agama adalah hak asasi manusia. Pemerintah tidak bisa mengatur sepenuhnya wilayah individu.

Pernyataan itu disampaikan Dhany Chandra alias Yusuf, Sabtu (23/11/19) di kampus Staimas Wonogiri pada Seminar bertema Memperkokoh Wawasan Kebangsaan dari Ancaman Radikalisme. 

Tetapi ada pengecualian. Mantan Narapidana ini sependapat dengan Menteri Agama (Menag) RI, Fachrul Razi. Larangan cadar yang disampaikan Menag husus untuk ASN. “Larangan Menag soal cadar untuk ASN. Kalau pakai cadar kan gak keliatan wajahnya,”  katanya. 

Ada pernyataan menarik dari mantan Napi 5th ini. Antara lain, dia mengaku pernah berada di tahanan Polda Jateng. Akhirnya menetap +- 5th di Lapas Cipinang Jakarta. 

Namun hanya disampaikan sekilas soal dirinya. Statusnya sebagai Napi apa? Tidak disampaikan? Ia mengaku kenal beberapa teroris. Bahkan pernah satu blok kamar dengan Napi Teroris. 

Dhany Chandra Pengasuh Pondok Pesantren Baitul Quran (BQ) | Foto Baguss

Antara lain trio bomber Bali asal Lamongan. Amrozi, Ali Ghufron, dan Ali Imron. Nordin M Top, Doktor Ashari (Malaysia), Umar Patek. Bahkan dia menayangkan foto-foto dengan para Napi Teroris. 

Dhany berpesan agar mahasiswa dan generasi muda jangan terpapar paham Radikalisme dengan makna luas. Radikalisme bisa berhubungan dengan segala unsur Suku, Agama, Ras, Antar golongan (SARA). Bahkan pemerintah.

Jangan memusuhi negara, lembaga, aparat, dasar dan hukum negara. 

Nasionalisme tetap harus dijunjung tinggi. Mahasiswa harus cerdas dan kaya. Jihad itu butuh modal besar. Jalan dakwah itu luas. “Agar kita terhindar dari Sikap Radikal yang merugikan Islam,” katanya. Ladang jihad luas. Tetapi tidak harus dimulai dengan menguasai Pemerintah. Bisa di bidang Pendidikan, Kesehatan, Pertanian. 

Dhany menilai ada dua kesalahan Hisbut Tahrir Indonesia (HTI). Satu menawarkan sistem khilafah. Karena pemerintahan khilafah Ustmani telah berakhir. Saat ini tidak ada khilafah. Kedua  HTI ingin menguasai pemerintahan Indonesia. 

“Salahnya HTI menawarkan Khilafah kepada negara ini. HTI seharusnya malu dengan NU dan Muhammadiyah. Kenapa? Karena NU dan Muhammadiyah melebihi Khilafah. Apa yang dilakukan NU dan Muhammadiyah sama dengan Khilafah. NU dan Muhammadiyah punya Baitul Mal, Sekolah, Rumah Sakit. HTI punya apa?

Kuncinya, dikatakan masyarakat tidak perlu takut religius. Religius boleh tapi harus nasionalis. Sebaliknya nasionalis boleh tetapi harus religius. “Jangan jihad karena nafsu kekuasaan. Itu salah. Paham?! tegasnya.

Seminar ini diselenggarakan Forum Masyarakat Wonogiri Peduli Bangsa Kerjasama STAIMAS Wonogiri. Hadir dua pembicara lain, Slamet Supriyono, dan Dewi Agustin. (baguss)

error: Content is protected !!