Teknologi Canggih Budidaya Kopi dari UNS Untuk Wonogiri

0 100

INFOWONOGIRI.COM-Bermodalkan dana dari Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Universitas Sebelas Maret (UNS) tahun Anggaran 2019 mengembangkan perangkat berbasis Internet Of Thing.


Alat itu digunakan untuk memonitor tingkat kematangan buah kopi pada kebun kopi rakyat, dan mengirimkan status kematangan buah secara periodik ke gadget petani melalui internet. Sehingga petani bisa memutuskan buah kopi pada area mana yang siap dipanen.

Tim pelaksana kegiatan Tri Dharma UNS menjalin kerjasama dengan Kelompok Tani Wonotritis dalam pengembangan teknologi untuk optimalisasi budidaya kopi. Tanaman kopi dilirik petani Dusun Tritis, Desa Semagar, Kecamatan Girimarto, Wonogiri.

Lantaran, tanaman cengkeh pernah yang menjadi andalan mengalami kerusakan akibat jamur karat. Dusun Tritis berada pada ketinggian 800 hingga 1200 DPL, cocok untuk pengembangan kopi dari jenis Liberika, Robusta dan Arabika.

Ketua Tim, Cucuk Budiyanto menjelaskan, kegiatan berlangsung pada Juli 2019 lalu. Selain teknologi pemantauan buah kopi, tim UNS juga mengenalkan teknologi irigasi tetes otomatis dan inisiasi pembibitan kopi dalam upaya mendorong peningkatan penghasilan petani.

Kopi kini menjadi bagian gaya hidup masyarakat. Itu sebabnya komoditas kopi menjadi pusat perhatian berbagai pihak untuk dikembangkan khususnya pada daerah dengan ketinggian dan iklim yang cocok bagi budidaya tanaman kopi.

Kawasan timur Kabupaten Wonogiri di lereng selatan Gunung Lawu memiliki potensi bagi pengembangan kopi. Yaitu Kecamatan Bulukerto, Jatipurno, dan Girimarto dilirik sebagai sentra penghasil komoditas kopi khas Wonogiri.

Tren yang berkembang bagi penikmat kopi dewasa adalah identifikasi citarasa yang dihasilkan oleh biji kopi atau yang dikenal sebagai notes. Biji kopi yang berasal dari satu wilayah perkebunan (single origin) akan menyuguhkan notes yang serupa.

Citarasa itu akan berbeda dari satu daerah dengan daerah lain yang dipengaruhi oleh ketinggian lokasi dari atas permukaan laut, suhu lingkungan, dan perlakuan saat panen/paska panen. Kondisi penanaman, berbuah, hingga panen/paska panen berkontribusi terhadap 60% kualitas biji kopi.

Secara umum permasalahan yang dihadapi petani kopi tradisional adalah kesadaran untuk melakukan praktek memanen. Ketika buah kopi telah berwarna merah, dan meninggalkan buah yang masih mentah atau belum matang sempurna.

Praktek petik merah ini juga menghindari buah menjadi terlalu matang (over-ripe) yang memberikan citarasa busuk kopi. Kondisi lahan yang jauh dari pemukiman dan situasi medan, menyebabkan petani enggan bolak-balik ke lahan untuk memetik buah yang matang sempurna. Sebaliknya, dengan sekali jalan, petani melakukan panen racutan atau memetik semua buah yang ada, dengan mengabaikan tingkat kematangannya. (rilis)

error: Content is protected !!