Kebanyakan, Guru Salah Dalam Mengajar Anak TK-PAUD

0 5.048

INFOWONOGIRI.COM-NGADIROJO-Guru pada lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) atau Taman Kanak-kanak (TK) kebanyakan salah dalam memberikan “menu” pelajaran di sekolahnya. Kesalahannya yaitu memberikan pelajaran membaca menulis dan berhitung (Calistung) pada usia dini.

Padahal belum waktunya, anak PAUD/TK mendapatkan pelajaran Calistung. Seharusnya pelajaran bagi anak PAUD/TK adalah pendidikan budi pekerti. Seperti adab, akhlakul karimah, solidaritas, kebersamaan, berbagi, berbakti pada orang tua/guru, sikap mandiri, membantu orang lain dan lain lain.

Calistung boleh saja diajarkan. Tetapi harus diramu metode pembelajaran dengan bermain, bernyanyi, berolahraga, dan kegiatan-kegiatan cenderung dekat dengan dunia anak. Misalnya main petak umpet. Bermain lumpur. Bemain di pasir. Dan permainan-permainan warisan luhur bangsa yang bernilai seni dan budaya tinggi.

Pendapat itu dikemukakan Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Pusat Afifah Afra, Ahad (14/7/19) pada Acara Festival Leterisi di RMAS Ngadirojo Wonogiri. Ke-salahkaprah-an itu tampaknya susah dibenahi. Lantaran, ada tuntutan dari orang tua. Yaitu, orang tua mengingingkan anaknya cepat bisa calistung.

“Boleh. Tetapi jangan dibebankan kepada anak. Karena kemampuan anak berbeda beda. Karekater dan bakat anak juga berbeda. Ajarkan dengan beradab. Literasi itu sangat penting. Meski tidak ada batasan jelas. Tetapi tidak saklek. Litetasi adalah syarat mutlak. Literasi tidak hanya baca tulis dan berhitung saja,” kata –mba- Afifah.

Literasi itu, meliputi berbagai disiplin. Di bidang teknologi komunikasi dan informasi, since, seni budaya, dan hamper semua ilmu pengetahuan. Kitab suci agama Islam Al Quran telah memerintahkan agar umatnya belajar membaca, Iqro. Itu adalah inti dari Literasi. Jika siapa saja meninggalkan literasi maka tidak mempunyai kompetensi.

Afifah mengingatkan para pegiat literasi, agar sadar pentingnya budaya literasi. Baca tulis. Itu yang harus dibangun terlebih dahulu. Sebagai pondasi. Bukan membangun jalan tol dan pembangunan fisik lain. “Saya lebih suka suasana rumah kayu, cantik alami, dan masyarakatnya ramah. Dari pada pembangunaan jalan tol dan gedung megah,” katanya.

????????????????????????????????????

Literasi di Indonesia, menurut Afifah keblabasan. “Mau bangun manusia seutuhnya atau bangun apa?” tanyanya. Afifah mencontohkan. Di Negara Scandinavia, Scotlandia dan maju dan kaya. Di sana, mereka hidupnya santai. Tinggal di rumah kayu. Kebiasaan jalan kaki. Hiburan ke sungai, gunung. Bukan ke mall atau swalayan. Dan tidak membangun infrastruktur.

Padahal penduduk di sana rata rata penghasilan perkapitanya tinggi. Rp.800 juta pertahun. Tetapi mereka tidak membangun fisik. Melainkan membangun moral. Batu bara diambil seperlunya saja hanya sekedar agar nanti malam tidak kegelapan. Sebaliknya. Di sini banyak orang berpenghasilan banyak. Tetapi tidak menikmati hasilnya. Yang menikmati siapa?

“Jadi yang dibutuhkan manusia beradab dan berkeadilan. Ini soal paradigma. Literasi harus menjadi paham sehingga bisa memilih baik buruk. Ini gerakan fundamental,” katanya. Ada tahapan. Yaitu tradisi lisan, tulisan/aksara, audiovisual, dan intetnet. Aneh. Nah, di Indonesia terjadi loncatan. Tak beraturan. Belum tradisi lisan-tulisan, loncat ke tradisi internet-an.

Sesungguhnya, pemanfaatan medsos di Indonesia masih tradisi lisan yang meminjam huruf. Terkesan tergesa-gesa, tanpa referensi, tampa tabayun, spontan (asal njeplak). Indonesia literasinya masih lisan. Karena itu, Afifah mengajak tradisi medsos dirubah menjadi tradisi literasi. Bukan main-main. “Maka harus sungguh-sungguh. Terjun dan berenanglah sedalam-dalamnya. Literasi adalah nafas hidup kita,” pungkasnya. (baguss)