Ini Wartawan Yang Pernah Dibui 160 Hari

0 418
Ranu Muda Adi Nugroho

INFOWONOGIRI.COM-NGADIROJO-Namanya Ranu Muda Adi Nugroho. Biasa dipanggil, Ranu. Usia 38 tahun. Muslim yang berdomisili di Kecamatan Grogol Kabupaten Sukoharjo ini adalah jurnalis. Seorang wartawan yang bekerja untuk media masa On Line; Pancaran.Net dan pernah bekerja di beberapa media lain.

Kemarin, Ahad (14/7/19), dia datang pada Festival Literasi di RM-AS di Ngadirojo. Kesempatan itu dimanfaatkan INFOWONOGIRI.COM untuk ngobrol sejenak. Ada beberapa hal menarik pada dirinya. Dia pernah dibui 160 hari. Bukan dipenjara. Dibui artinya dimasukan ke tahanan atau sel, padahal belum ada ketetapan hakim.

Ada yang menyebut korban salah tangkap. Benarkah? Kenapa -hanya- salah tangkap sebegitu lama di dalam bui? Apa masalahnya? Berikut penuturannya. Profesi wartawan itu resikonya berat. Penjara dan nyawa taruhannya. Ranu masuk di Rutan Kedung Pane Semarang tanggal 22/12/2016. Dia dituduh terlibat melakukan perusakan Kafe Social Kitchen Solo.

Ranu dijerat Pasal berlapis, yaitu 169, 170 KUHP tentang pengeroyokan. Pasal 56, Pasal 57, Pasal 58, Pasal 59, dan Pasal 60 KUHP tentang siapa saja dapat dipidana sebagai orang yang membantu melakukan kejahatan karena sengaja memberi bantuan pada waktu kejahatan itu dilakukan. Atau siapa saja sengaja memberi kesempatan, sarana atau keterangan untuk melakukan suatu kejahatan.

Namun tuduhan itu tidak terbukti. Majlis hakim menyatakan Ranum tidak bersalah. Untuk itu dia divonis bebas. Karena itu jaksa tidak puas. Lalu melakukan kasasi ke Mahkamah Agung. Namun kasasi ditolak. “Saatitu saya sebagai wartawan panjimas.com. Salah satu media yang dituduh radikal,” katanya.

Kepada Polisi penangkap, Ranum sudah menjelaskan, dirinya adalah wartawan. Tentu menunjukan identitas dan kartu pers. Namun telinga polisi tak mendengar. Matanya tak mau melihat. Ranum pun telah menjelaskan. Saat itu di Kafe sedang liputan Ormas Laskar Umat Islam Solo (LUIS) yang mengirimkan surat peringatan kepada pengelola kafe tersebut.

Ormas LUIS geram lantern mendengar kafe itu diduga melanggar jam operasional dan menyajikan penari streptease. Rombongan LUIS itu terdapat penumpang gelap. Penyusup itulah yang melakukan perusakan. “Saya resmi diundang LUIS untuk meliput. Wartawan lain juga diundang. Tapi wartawan lain tidak ada yang datang,” katanya.

Tetapi polisi tetap menuduh Ranum bagian dari LUIS. Ranum dicurigai hadi dalam rapat sebelum LUIS “menyewiping”. Ranum juga berangkat satu kendaraan dengan LUIS ke kafe. Laporan intel itulah yang masuk ke Mabes POlri. Maka turunlah “Sprin Kapolri” untuk menangkap orang yang terlibat dengan LUIS. Kasus itu juga menjadi perhatian public.

Pada tanggal 5 Mei 2017 Ranum dibebaskan dari bui. Banyakpula teman-teman wartawan dan penulis yang membantu moral dan moril. Termasuk FLP. Garakan #bebaskanranum menjadi trending topic instagram dan bahkan viral di medsos. “Pas bulan Romadhon sidang bebas, hanya 2 orang dari 12 hanya yang terbukti,” katanya.

Ranum berpendapat, ia selama bisa jadi sudah dibidik. Karena ia sering mengkritisi “salon plus-plus”. Atau karena murni kasus kafe. Atau karena memang polisi salah tangkap. Atau menangkap seseorang karena pesanan. Tetapi prinsipnya. Ranum berkerja sebagai jurnaslis sebagai sarana dakwah bilkolam (dengan pena). Media adalah ladang dakwah baginya. (baguss)

error: Content is protected !!