Jaksa Diinterupsi. “Ini Bukan Sidang Partai!”

0 750
Saksi Ahli ITE Winarno SSi MEng (37th) Dosen di FMIPA UNS | Foto baguss

INFOWONOGIRI.COM-SELOGIRI-Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Wonogiri, Bagyo Mulyono diinterupsi seorang advokat (pengacara) pada acara sidang Selasa (7/5/19) di Pengadilan Negeri Wonogiri.

Pengacara negara itu diinterupsi lantaran menggiring pertanyaan seputar partai politik, saat memeriksa terdakwa UU ITE, dr. H Martanto. Jaksa menanyakan latar belakang atau riwayat hidup dr. H. Martanto.

Dr. Martanto menjawab pertanyaan JPU, bahwa ia pernah terlibat partai politik sekira tahun 1998, pasca reformasi “Saya pernah menjadi Ketua Partai Keadilan,” kata H. Martanto. PK itu, lanjutnya, dibubarkan karena suara nasional tidak memenuhi ambang batas.

Pada kesempatan itu M. Taufik selaku penasehat hukum Terdakwa meng-interupsi JPU. “Interupsi yang mulia. Ini bukan sidang partai politik. Pertanyaan jaksa tidak ada kaitanya dengan UU ITE,” tegas M. Taufik.

Menyikapi interupsi itu, Ketua Majlis Hakim, Lingga Setyawan memerintahkan agar JPU mencari pertanyaan lain. “Cari pertanyaan lain,” kata Lingga. Namun JPU tidak melanjutkan pertanyaan. “Cukup yang mulia,” kata JPU.

Sidang kemarin adalah sidang ke 15 kalinya dengan agenda pemeriksaan saksi A De Charge (meringankan) yang diajukan kubu terdakwa dan dilanjutkan pemeriksaan terdakwa.

Hadir Saksi Ahli ITE Winarno SSi MEng (37th) dari Mojosongo Jebres Surakarta. Dosen di FMIPA UNS itu menjelaskan kesaksian teknologi informasi dan transaksi elektronik (ITE), utamanya WhatsApp Grup (WAG).

Menurutnya, WAG adalah ruang privat. Bukan ruang publik. Mengeshare di WAG bukan kategori mendistribusikan informasi ke ruang publik. Tetapi privat. Sedangkan membuat status di WA tergolong sebagai memberikan untuk publik. Artinya, siapa saja yang menyimpan nomor tersebut bisa melihat statusnya.dengan catatan statusnya tidak dikunci.

Menurutnya, ketika ada sebuah pesan atau informasi dalam format apapun di dalam WAG diketahui orang lain (bukan member WAG) disebabkan ada orang yang memberitahukan ke pihak luar.

Misalnya sebuah meme diunggah dalam WAG, jika terjadi masalah, maka harus ditelusuri asal usul siapa pembuat meme tsb. Hal berbeda, jika meme atau bentuk apapun diunggah ke FB, blog, dan Instagram maka hal itu bersifat publik.

Sebuah pesan diunggah ke ruang private atau publik, pun, belum tentu bisa diakses, karena tergantung setingan HP, suport sistem sinyal, paket pulsa/data, dan versi WA (lama/baru).

Dijelaskan, di dalam dunia maya, di dalam server internet, sesungguhnya banyak sekali tersimpan hal hal yang bertentangan dengan norma susila, hukum, agama dan kemasyaratan. “Saking banyaknya, penjara bisa penuh, perlu membuat pulau tersendiri. Maka orang harus kuat iman,” katanya. (baguss)