Dicurigai Ada Dalang Kuat Dibalik Pengeroyokan Kasatreskrim

0 460

Joko Prihanto selaku Ketua Cabang Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Kabupaten Wonogiri | Foto baguss

INFOWONOGIRI.COM-KOTA-Misteri pengeroyokan terhadap Kasatreskrim Polres Wonogiri AKP Aditya Mulya Ramadhani SIK belum terungkap.

Siapa para pelakunya? Siapa dalangnya? Apa motifnya? Kronologisnya? Kenapa bisa terjadi seorang perwira polisi lulusan Akademi Kepolisian (AKPOL) menjadi sasaran massa? Kenapa tidak melindungi diri dengan senjata apinya? Apakah tidak membawa senpi? Apakah tidak ada ajudan atau anggotanya? Kemana angotanya?

Sampai saat ini belum ada penjelasan dari Kapolres Wonogiri AKBP Uri Nartanti Istiwidayati SIK MSi, Wakapolres, para Kasat/Kabag di bawahnya. Demikian juga Kasubag Humas IPTU Suwondo SH belum berkenan memberikan keterangan dengan alasan belum ada mandat. “Ke Ibu Kapolres langsung, atau ke pejabat penggantinya,” kata Suwondo.

Berikut informasi disampaikan oleh Joko Prihanto selaku Ketua Cabang Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Kabupaten Wonogiri.

Joko menceritakan, malam itu Rabu (8/5/19) ia bersama anggota Intel Polres Wonogiri turun ke beberapa titik-titik kumpul massa. Joko mengaku sempat bertemu AKP Aditya Mulya Ramadhani di wilayah Ngadirojo dan Sidoharjo, sebelum terjadi pengeroyokan.

Selepas pukul 00.00 Wib Joko Prihanto berpisah dengan Kasatreskrim. Joko dan rombongan, termasuk Kapolres menuju ke Jatisrono, Slogohimo, Purwantoro dan sekitarnya. Sekira pukul 01.30 Wib, Joko Prihanto mendengar kabar, bahwa Kasatreskrim dikeroyok massa.

Karena itu, Joko Prihanto dan rombongan balik ke arah Sidoharjo. Namun Kasatreskrim sudah tidak ada di TKP (Sekitar SPBU Sudimoro Sidoharjo). Diperoleh informasi, Kasatreskrim dirawat di Klinik di Jatisrono. Sampai di sana, Kasatreskrim sudah dirujuk ke RS dr Oen Solobaru.

Joko memerkirakan jumlah masa di beberapa titik, mencapai 5000an. Awalnya masa justru datang dari luar Kabupaten Wonogiri. Dari warga Wonogiri justru belakangan. Massa terpencar pencar. Karena datang dari berbagai penjuru.

Joko Prihanto menduga ada sekenario orang kuat. Kronologisnya, awalnya di Jeruk Pacitan Jatim (berbatasan dengan Kismantoro Wonogiri) ada 20 anggota SHT latihan, awal Mei. Saat itu diswiping oleh ratusan orang. Pelatih dan muridnya dianiaya. Akibatnya luka-luka. Kemudian dilaporkan polisi. Namun tidak diproses sesuai hukum.

Anggota SHT panas, namun bisa dikendalikanan. Kemudian tanggal 6 Mei beredar video perusakan simbol organisasi beladiri. Itu reakasi dari swiping di Jeruk. Selasa malam ada swiping mencari pembuat video. “Siapa orang yang pakai jemper organisasi beladiri itu, nantang nantang, harus diselidiki,” katanya.

Saat kondisi hampir aman, malah ada kabar kebakaran Kantor Dinas Pendidikan Kecamatan Jatiroto. “Gambar Itu dijejerkan, dengan perusakan simbol beladiri. Dikabarkan rumah salah satu anghota dibakar. Sehingga tambah panas,” kata Joko. (baguss)

error: Content is protected !!