Dibutuhkan Ustadz Untuk Masjid Arrosyid Parnaraya

0 368

INFOWONOGIRI.COM – SIDOHARJO Bersamaan malaikat menghilang, adzan berkumandang. Hayya’alassholahhh… mari meraih kemenangan. Sholat dzuhur tiba. Jamaah sholat dzuhur diikuti tiga orang pria, dan satu perempuan. Tiga jamaah itu adalah Maridi (65th), Karyo (68th) dan Sunarto (38th).

Sunarto, menuturkan, mereka adalah warga RT 01 RW 07. Penduduk Kajang ada 33 KK, terdiri dari kurang lebih 100 jiwa. Prosentasi pemeluk agama islam mencapai 100%. Meski, 100 % muslim, namun kesadaran melaksanakan sholat dzuhur berjamaah terbilang rendah. Karena warga berat meninggalkan pekerjaanya.

Waktu sholat subuh, dzuhur dan asyar adalah waktu yang paling pas untuk mengetahui tingkat kehadiran jamaah sholat wajib. Saya mencoba menunggu sampai adzan sholat asyar tiba. Benar. Sampai sholat ashar betakhir tak satupun orang dewasa datang sholat berjamaah. Yang hadir adalah santri TPQ. Ada belasan santriwan/ti.

Sunarto alias Narto, berpendapat, salah satu faktor penyebab minimnya jamaah sholat dzuhur dan asyar, karena pekerjaan penduduk mayoritas bertani atau buruh serabutan. Sedangkan anak anak muda usia 20-40th merantau. “Merubah urusan bathin (hati, red) memang susah,” kata Narto.

Sebelum ada masjid, hanya ada 1 mushola ukuran kecil Warga berencana merehab mushola. Untuk itu panitia mengalang dana. Namun sebelum merehab musholla lama, bertemu Suparno, putra daerah yang merantau di Jakarta asal Sidoharjo yang juga founder istana Parnaraya.

Beliau menawarkan kepada masyarakat untuk dibuatkan masjid. Suparno membeli tanah dan membangun masjid dengan dana pribadi. Masyarakat hanya diminta sesekali bekerja bakti pengurukan halaman masjid.

Kini telah berdiri masjid di atas tanah seluas sekitar 700 M2. Masjid itu diberi nama Masjid Arrosyid Parnaraya telah diresmikan pada 16 Maret 2018. Prasasti ditandatangani oleh Suparno Parnaraya.

Kini tanggungjawab umat islam adalah memakmurkan masjid itu. Sunarto merasakan cukup berat. Mengingat latar belakang pendidikan dan pemahaman agama masyarakat setempat rendah. “Saya merasakan itu,” kata Sunarto yang juga bendahara Masjid.

Suasana berbeda dapat dirasakan pada malam hari. Jamaah sholat magrib dan isya cukup banyak. Mencapai dua shof (baris). Namun jumlah itu belum sebanding dengan jumlah penduduk setempat. Jumlah jamaah terasa lebih banyak manakala dilaksanakan Sholat Jumat. Bisa mencapai 5 shof atau sekira 40 orang lebih.

Terpisah Suparno, menandaskan, bahwa membangun masjid menjadi cita-citanya sejak lama. Namun baru beberapa tahun belakangan ini dapat terlaksana. Kini masjid sedang proses wakaf kepada masyarakat Kajang. Bangunan masjid tersebut diperuntukkan bagi semua umat muslim baik itu NU, Muhammadiyah dan lain-lain yang mengikuti syariat islam.

Tidak ada tujuan politik maupun tujuan keduniawian. Melainkan tujuan untuk menegakkan agama Allah agar umat islam bisa menjalankan agamanya dengan nyaman dan berharap Ridho Nya saja. Disisi lain, kini ia sedang berusaha mendapatkan imam sekaligus sebagai ustadz pemangku masjid. Suparno juga sedang membangun masjid ke dua di daerah Wonoanti Pacitan Jatim dan masjid ke tiga akan dibangun di Matesih Karanganyar.

Dalam konfirmasinya, beliau bersikeukeuh pembangunan masjid tetap dibiayai pribadi. Sehingga proses pembangunanya memakan waktu agak lama sambil mencari rejeki dari usaha dan kerjanya. (baguss-selesai)

error: Content is protected !!