Di Wonogiri kini Marak Berandal !

0 831

INFOWONOGIRI.COM-KOTA-Dulu, kata Berandal itu bermakna negatif. Seorang atau kelompok penentang peraturan, menang sendiri, merugikan orang lain dengan segala cara tampa memikirkan benar / salah, halal / haram. Di beberapa daerah kata itu identik dengan preman, perampok, dan pengacau.

Tetapi akhir-akhir ini, kata Berandal menjadi bermakna positif. Seperti di kalangan komunitas umat islam, khususnya “Jamaah Tabligh / JT ” Kata itu kependekan dari “Bersama Rasakan Dahsyatnya Amal”.

Di halaman Masjid At Taqwa Wonogiri, Sabtu (5/5/18) digelar pengajian Bareng “Berandal”.
Dihadiri seribuan manusia. Ada ratusan JT yang memiliki “kesan negatif”. Pemabuk, Pengamen, Pemulung, Pengemis, Bencoleng. Di antara mereka ada yang masih bertato, beranting, perokok, bahkan masih ada yang peminum.

Beberapa anggota menyampaikan tesimoni, (kesaksian). Ada Wowok, Agung, Iqbal, Bagas dan Komunitas Sapu Gerang. Mereka mengaku tobat dan bergabung mengaji bersama kelompok JT.

Bahkan kini, mereka patuh untuk menjalankan tugas dakwah. Yaitu mengajak orang untuk menjalankan sholat jamaah di masjid bagi lelaki. Itu dilakukan dari rumah ke rumah.
Bukan tampa rintangan dan tantangan.

Tantangan datang pertama dari diri sendiri, orang lain dan syetan. Bahkan dari orang tua dan keluarga sendiri, pun ada yang menentangnya. “Saya malah dikira orang gila. Dikira teroris,” kata Agung asal Solo.
Tahap pertama, jaulah 3, 7 hari, 15, hari, 40 hari. Tujuannya memerbaiki diri, lalu mengajak orang lain menjadi baik, dalam ibadah.

“Amal ibadah yang paling banyak ditingalkan umat manusia aalah silaturahim (jaulah),” kata Bowo mantan Boys Band Jogja.
Latar belakang “suram” juga diceritakan Muhammad Ridwan Sahroni alias Roni seorang pemusik asal Serengan! Tipes Surakarta.

Dia nakal sejak kelas 1 SMP Islam Solo. Kenakalany ditulari kakak-kakak kelasnya. “Sejak kelas 1 saya sudah pakai tato,” katanya. Pindah-pindah sekolah kebiasaan buruknya. Orang tuanya taklagi mampu mendidiknya, karena saking nakalnya dia. Takiuruslah dia. Roni lalu merantau ke Tangerang, jadi karyawan warung bakso. Gagal. Pulang. Di rumah buka tambal ban. Tambah nakal. Hasil nambal untuk mabuk. Orang tua tambah gak kuat. Ortunya memilih pergi ke Jakarta. Merasa bebas, tampa pengawasa ortu. Roni makin menjadi. Makin parah. Kabar kematian ayahnya, tidak ihiraukanya. Baru hidayah datang ketika jenazah itu sampai di rumah duka. Tangis meledak. Itulah yang menyadarkanya.
Hadir pemimpin doa husus Habib Umar Husain Assegaf, Takmir At Taqwa Supandi, Satpol PP Waluyo, dan penceramah Agus Cobra dari Tirtomoyo. (baguss)

error: Content is protected !!