Kasek SMAN 1 Sidoharjo: Terimakasih Pak Begug dan Pak Dosen

0 463
Uswatun Hasanah | Kepala SMAN 1 Sidoharjo.

INFOWONOGIRI.CMO – SOSOK-Uswatun Hasanah. Sebuah nama yang indah dan mudah diucapkan. Siapakah dia? Dialah seorang wanita berkerudung yang berprofesi sebagai guru bahasa Indonesia di SMAN Sidoharjo Kabupaten Wonogiri.

Wanita kelahiran Ngawi 30 Juli 1976 ini belum lama ini mendapatkan tugas tambahan menjadi Kepala SMAN 1 Sidoharjo.

Tentu kedua tugas itu dianggapnya sebagai amanah. Manakala ia tidak bisa menjalankan dengan sungguh-sungguh dan amanah maka dia akan gagal, atau paling tidak mendapatkan nilai merah.

Bukan perkara yang mudah menjadi guru dan kepala sekolah. Dia harus disiplin terhadap diri, keluarga dan keluarga besar civitas SMAN 1 Sidoharjo.

Bagaimana tidak? Uswatun Hasanah adalah seorang ibu rumah tangga dari seorang suami dan seorang anak. Dia tinggal di wilayah perbatasan Wonogiri dengan Ponorogo Jatim. Cukup jauh dari sekolah SMAN 1 Sidoharjo, yang berada di pelosok Kampung, di wilayah selatan Kecamatan Sidoharjo, hampir perbatasan dengan Kawasan Gunungseribu Kecamatan Tirtomoyo.

“Saya harus berangkat lebih awal, agar saya tidak terlambat,” kata Uswatun. Karena dia ingin menjadi suri tauladan bagi guru-guru yang lain dan murid- muridnya. Seperti arti namanya, contoh yang baik.

Tidak hanya sikap kedisiplinan waktu. Ia juga mencontohkan dalam kehidupan beribadah bagi guru dan murid-muridnya. “Sholat kami wajibkan berjamaah di masjid, bagi muslim dan muslimat. Dan kami absen satu-persatu,” tutur istri Rudi Triawan arrangger (seniman yang bertugas mengaransemn musik).

Tidak hanya sholat jamaah, bagi murid-muridnya juga diwajibkan rutin membaca kitab suci Al Quran sambung menyambung ayat/surat pada setiap jumat, dan pada setiap pelajaran agama.

Rupanya hal itu didukung guru-guru dan muridnya, sejak ia menjadi Kasek sekira 10 bulan silam, sampai kini tetap berjalan.

Ada hal lain, yang ia contohkan kepada murid-muridnya, sebagai guru bahasa Indonesia, ia mewajibkan kepada murid-muridnya rajin membaca apa saja, asalkan bacaan positif, untuk memperluas literasi. Dia mengajarkan anak-anak rajin menulis, membaca, dan membuat karya sastra seperti puisi, cerpen, dan novel. Bahkan ia ajarkan menulis ilmiah dan jurnal sesuai kemampuan masing masing.

Itupun tidak hanya sekedar teori yang diajarkannya. Tetapi dicontohkan. Uswatun hasanah telah lima kali menulis buku. Antara lain Rumah Cahaya, kumpulan novel, Bunga Rampai Analisis Wacana “Album Perpisahan Sebuah Nama Sebuah Cerita Kelompok Band Paterpen, Cerpen Belik Mbah Jinem, Ir Kuli, Balada Hidup si Burung Pipit, dan lain lain.

Karena memang, Uswatun merasa dirinya mempunyai hobi dan perhatian di bidang seni. Maka tesis dan disertasinya-pun di bidang seni. Yaitu Kajian Historis, Struktur dan Nilai Edukatif Teater Tradisional Reyog Ponorogo, serta Pengembangan Buku Teks Drama Berbasis Teater Tradisional Reyog Ponorogo.

“Saya berterimaksih sangat, terhadap guru-guru saya, yang telah mendorong terus agar saya berlatih menulis. Guru guru itu, di antaranya Bapak Begug Poernomosidi, Bupati Wonogiri periode 1999 – 2009 dan Drs Rohmadi, dosennya. Bimbingan yang tidak kalah penting adalah Ibunya Hj. Siri seorang Hafidzoh (penghapal al quran) yang hingg kini masih sehat, serta ayahnya, Abdul Jamal Warsito (hafidz) alm, yang telah melahirkannya menjadi anak ke 11 dari 11 bersaudara, ragil. (baguss)

error: Content is protected !!