Dongeng Hari Kiamat di Wuryantoro

0 375


INFOWONOGIRI.COM-WURYANTORO-Bertempat di Pendopo Kecamatan Wuryantoro, Minggu (19/11/17) dilaksanakan acara “Wuryantoro Berkisah.”

Acara dihadiri Camat Wuryantoro Drs Purwadi Hardo Saputro,MM, Danramil 10/Wuryantoro Kpt Inf Budi Utama yang diwakilkan Koptu Setio Budi, Forkopincam Wuryantoro, Ustad Junaedi, Ustad dan Ustadzah serta anak-anak TPA kurang lebih 300 anak.

Tampil Ustad Junaedi menceritakan Hari Kiamat. Ketika Hari Kiamat tiba, terjadi goncangan bumi yang dahsyat.

Bumi memuntahkan seluruh isi perutnya, berhamburan dan hancur berantakan. Lautan meluap dan terbelah. Gunung-gunung berguncang keras, pecah beserpihan bagaikan butir-butir pasir beterbangan bagaikan kapas bertebaran di udara.

Gunung-gunung menjulang tinggi tak ubahnya fatamorgana, tak lagi perkasa
Bulan, matahari, bintang bintang yang begitu besar, yang besarnya lebih besar dari bumi yang ditempati ini, yang lebih terang jutaan kali lipat dari matahari, semua akan hancur dan sinarnya menjadi pudar padam.


Segala gerak, tatanan dan aturannya. Matahari bertabrakan dengan bulan. Langit akan bergoncang, terbelah dan hancur. Gugusan langit akan luluh bagaikan barang-barang tambang yang diluluhkan dan mencair. Alam ini dipenuhi dengan asap tebal dan awan gelap.

Dalam kondisi seperti itu, ditiuplah sangkakala, jerit kematian pun menyeruak ke seluruh jagad. Ketika itu, seluruh manusia dan makhluk hidup mengalami kematian tidak sesuatu pun yang tersisa di dunia ini.

Seluruh manusia ketakutan dan panik. Tergoncang dan kebingungan, kecuali orang mukmin. Hati mereka tenggelam dalam makrifat dan mahabbah (cinta) kepada Allah SWT.

Setelah peristiwa itu terjadi, alam akhirat memasuki babak baru. Alam yang memiliki potensi kekekalan dan keabadian. Nur Ilahi memancarkan sinarnya, jeritan kebangkitan menggema, seluruh umat umat manusia dan binatang dihidupkan kembali hanya dengan sekejap.

Seluruh manusia diliputi kebingungan. Guncangan jiwa yang dahsyat bagaikan kupu-kupu beterbangan tanpa arah.

Kini, mereka berada di satu tempat yang agung, berdiri di hadapan Tuhan Yang Mahabesar untuk dilakukan hisab amal masing-masing. Mereka mengira sedang berada di alam barzakh hanya sekejap saja.
Semua orang tua dan anak-anaknya terkesima mengikuti acara itu, sampai selesai (dimiw)