Sarasehan Cegah Radikalisme

0 61

IMG_20160203_095106

INFOWONOGIRI.COM-SIDOHARJO–Kesatuan Negara Republik Indonesia ini terus dirongrong oleh kelompok-kelompok yang mengatasnamakan demokrasi, kebebasan beragama, keyakinan dan hak asasi manusia. Tetapi bertentangan dengan ideologi negara Republik Indonesia, Pancasila.

Dalam rangka mencegah radikalisme Muspika Kecamatan Sidoharjo menggelar saransehan pencegahan radikalisme, Rabu (3/2) di Pendopo Kecamatan Sidoharjo. Dihadiri pejabat Camat Sidoharjo Supardi, Plh Kapolsek Sidoharjo IPTU Abu Bakar Sidik, Danramil dan Pasiter Kapten Inf Tono.

Hadir pula tokoh agama dan tokoh masyarakat, Kades/Lurah, Bimbingan Penyuluhan (BP) pelajar SLTA di wilayah setempat. Narasumber dari Kodim 0728 Wonogiri, Polres Wonogiri dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB)Kabupaten Wonogiri dengan moderator Kemenag Sidoharjo.

Masyarakat dimintai tidak larutterhadap paham yang menyesatkan. “Di Jawa Barat telah muncul 144 aliran sesat. Masyarakat harus berpegang teguh kepada ideologi Pancasila demi NegaraKesatuan Republik Indonesia (NKRI),” kata Supardi Camat Sidoharjo.

Pasiter Kapten (Inf) Tono menyampaikan bahwa tugas TNI dalamoperasi ada 2. Yaitu tugas Operasi Militer untuk Perang (OMP) dan Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Selain mempunyai program TMMD, TNI juga membantu pemrintah di Bidang KB, Pertanian, Penghijuan, jambanisasi dll.

Ideologi Pancasila menurut Pasiter, merupakan pedoman hidup berbangsa dan bernegara, di desa maupun di kota.“Tolak faham radikalisme. Jangan sampaimasuk di wilayah kita. NKRI adalah Harga Mati,” tandas Kapten Tono.

Selanjutnya Wakapolres Kompol M. Fahrudin menyampaikan istilah INFANER.Kependekan dari Intoleran, Fanatik,Eksklusif, dan Revolusioner. “’Empat hal tersebut menjadi ciri paham radikalisme. Kita harus menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat,’’ tegas Wakapolres.

Diceritakan, ada seorang tukang tambal ban bernama Sayuti, mendeklarasikan dirinya sebagai Nabi.Ada juga seorang bernama Mursidi juga mengaku sebagai Nabi. Ketika gerakan mereka terendus oleh aparat, mendadakgerakanya disenyapkan.

“Jangan mudah terkecoh, termasukdengan Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar),’’ tegas Wakapolres. Gafatar merupakan jelmaan dari Darul Islam (DI), yang menginginkan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII).

Awal kedatangannya Gafatar tidak membawa ajaran agama. Kegiatanya dalam bentuk bakti sosial donor darah, pengobatan gratis, dan membagikansembako. Namun ternyata kegiatan itu hanya sebagai kedok dan jalan mencari anggota untuk didoktrin.

Sementara Ketua FKUB, H.Soetopobroto menyampaikan tentang kunci pokok menjaga kerukunan umatberagama. Sedangkan KH Al Ahdiyat dari Pondok Pesantren Sidoharjo hadir memberikan doa untuk keamanan dan keselamatan negeri ini. (B-5)

error: Content is protected !!