Waspadai Sindrome “Kawasaki’

0 215
 dr Khairun Nisa dan dr Yustain Nur Adin dokter spesialis anak di RSUD dr SMS Wonogiri saat menjelaskan terkait virus Kawasaki
dr Khairun Nisa dan dr Yustain Nur Adin dokter spesialis anak di RSUD dr SMS Wonogiri saat menjelaskan terkait virus Kawasaki

INFOWONOGIRI.COM-KOTA-Di RS Amal Sehat Slogohimo menangani pasien anak yang terindikasi terkena Sindrome Kawasaki (SK). Anak tersebut diketahui berinisial NTS (22bulan) alamat Desa Sidorejo Kecamatan Jatisrono Wonogiri.

Dokter spesialis anak di RSUD dr SMS Wonogiri Dr Khairun Nisa (yang juga dokter di RSAS Slogohimo) didampingi dr Yustanin Nur Adin, menjelaskan, SK atau virus kawasaki adalah sejenis penyakit khusus pada anak balita.

Gejala SK pada fase akut biasanya anak akan mengalami demam tinggi disertai ruam (kulit berwarna kemerahan) pada wajah, tubuh, tangan dan kakinya. Bahkan pada lidah dan telapak tangan atau kakinya. Gejalanya mirip campak dan ruibella.

“Begitu anak demam lebih baik segera ambil tindakan cepat, sebelum fase 7 hari atau 10 hari harus didiagnosis dan obat harus sudah dimasukkan. Karena diagnosis akan mempengaruhi prognosis (perjalanan penyakit),” kata dr Nisa.

Menurut dr Nisa, jika diagnosis terlambat, maka SK bisa terjadi komplikasi kepada jantung, yaitu aneurisma aurta, dampaknya bisa gagal jantung. Jika sudah menyerang jantung maka obatnya sulit didapatkan dan mahal harganya.

Dr Nisa menyebutkan, harga obat bisa mencapai Rp.15 juta sampai Rp.30 juta. Tergantung tingkat kekebalan tubuhnya. Sampai tingkat penyembuhan bisa menghabiskan dana Rp.150 juta untuk satu pasien anak sekali penyembuhan.

Beruntung, untuk kasus di RSAS Slogohimo dengan pasien NTS dengan cepat dirujuk ke RSUD dr Sarjito Jogjakarta. “Kok kebetulan itu anak teman, perawat RS Amal Sehat, anak orang Jatisrono,” tambah dr Yustanin Nur Adin.

Penyebab SK inveksi dan tidak bisa diimunisasi. Disebut Sindrome Kawasaki, karena penemu penyakit ini adalah dr Tomisaku Kawasaki dari Jepang. Namun demikian tidak perlu cemas. Karena SK tidak menular dan frekwensinya rendah.

Secara teori SK dipengaruhi oleh ras genetik, yaitu bangsa Asia lebih mudah terkena SKJ, dan anak lelaki lebih tinggi dapat terserang SK. Di Wonogiri sudah dua kali. Kebetulan kedua kali itu pasien di RSAS Slogohimo. (baguss)

error: Content is protected !!