Karto Suwito Asli Ngadirojo Teman Sekolah Presiden Soeharto

0 273
Karto Suwito mantan tentara marinir teman sekolah Presiden RI ke 2 HM Soeharto didampingi anaknya Mbah Mbelon
Karto Suwito mantan tentara marinir teman sekolah Presiden RI ke 2 HM Soeharto didampingi anaknya Mbah Mbelon

INFOWONOGIRI.COM – NGADIROJO – Di Dusun Kenteng RT 01 RW 03 Desa Ngadirojo Kidul Kecamatan Ngadirojo ada seorang lelaki tua bernama Karto Suwito. Sewaktu kecil atau semasa remaja, Karto Suwito lebih dikenal dengan nama asli Kemis.

Kemis saat ini, berdasarkan kartu tanda penduduk (KTP) seumur hidup yang dimilikinya, dia lahir di Wonogiri pada tanggal 12 Desember 1920. Berarti saat ini telah berumur 95 tahun. Usia yang sudah cukup tua.

Fisik Kemis terlihat tampak prima. Namun pendengarannya sudah tidak normal lagi. Sehingga jika berkomunikasi denganya harus dua kali lebih keras dibandingkan bicara dengan orang normal.

Penglihatannya juga sudah tidak normal, karena mata kirinya mengalami sakit. Namun dia masih bisa mengenali sanak saudaranya, melihat pemandangan dan membaca tulisan-tulisan tertentu.

Ada apa dengan Kemis? Kemis sewaktu kecil pernah mengenyam pendidikan sekolah berbahasa Belanda untuk orang-orang pribumi. Sekolah itu dinamakan HIS (Hollandsch-Inlandsche School). Kemis menyebutnya schocle (baca sekokel, red).

Salah satu teman sekolah seangkatan dengannya adalah almarhum Soeharto, Presiden RI ke 2. Jendral HM Soeharto menamatkan HIS sampai 7 tahun (sampai kelas 7). Sedangkan Kemis hanya sampai duduk di kelas 2.

“Soeharto sampai tamat, 7 tahun. Saya hanya dua tahun, keluar, karena tidak mampu membayar, setiap bulan harus bayar seringgit, orang tua saya tidak punya uang,” kata Kemis. Seringgit kata Kemis saat itu dapat satu ekor kambing.

Selain itu Kemis adalah seorang anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI). Kemis lebih faseh menyebutnya sebagai Tentara ALRI, kependekan dari Angkatan Laut Republik Indonesia. Istilah sekarang Marinir.

 Waktu itu dia pernah mengangkat senjata, perang melawan penjajah Belanda. Kemis ditempatkan di Srondol sampai di Ambarawa Semarang. “Saya pegang 1 senjata, anak buah saya 7 orang, tapi anak buah saya tidak ada yang pegang senjata. Mereka hanya mengikuti saya,” kata Kemis didampingi anak-nya ke 6 Pak Mbelon.

Karena keterbatasan senjata, Kemis dan pasukannya terpukul mundur. Kalah. Kemis menderita sakit mata. Mata kirinya terasa perih dan panas. Sehingga mata kirinya tidak bisa melihat normal.

Sejak saat itu dia pulang kampung, dan takkembali lagi ke korp-nya. Dua orang anggotanya, kebetulan sama sama asal Ngadirojo Wonogiri adalah Lettu Wiryo Kasman dan Peltu Sutejo.

Di hari perayaan HUT RI ini Kemis hanya bisa mengenang. Karena dia tentara yang tidak pernah mempunyai pangkat, gelar tampa penghargaan. (baguss)

error: Content is protected !!