Janggelan Khas Bulukerto

0 203

bu giyar

INFOWONOGIRI.COM-BULUKERTO-Bulan ramadhan, bulan yang dinantikan oleh pedagang janggelan di wilayah kecamatan Bulukerto. Seperti pasangan suami istri Pak Ripno (52) dan Giyarti (42) warga Dusun Pule RT 01 RW 02 Desa Bulurejo Kecamatan Bulukerto.

Sejak 10 tahun lalu Ripno-Giyarti menekuni pekerjaan sebagai pembuat jangelan dengan empat karyawanya. Pada hari biasa hanya memasak 10 kg daun kering jangelan, itupun hanya dilakukan tiga hari sekali.

Pada bulan ramadhan, setiap hari mampu memasak 20 kg daun jangelan kering. Daun jangelan kering seberat 10 kg bisa menjadi 30 ember jangelan masak. Pada bulan ramadhan ini, 20 kg daun kering mampu menghasilkan 60 ember jangelan siap konsumsi.

Waktu mengolah pada pagi hari hingga sore hari. Cara membuatnya, janggelan dipanen dengan cara dicabut seperti laiknya mencabuti rerumputan. Dijemur sampai kering. Kemudian diolah. Cara mengelohanya, daun janggelan dan batangnya yang telah mengering dicuci bersih dengan air.

Setelah itu direbus dengan air hingga mendidih. Setelah mendidih angkat daun janggelan lalu masukkan ke dalam ember/bak/baskom. Setelah mulai dingin, daun janggelan rebusan diremas-remas sampai lembut hingga hancur. Kemudian disaring.

Hasilnya kemudian direbus kembali ditambahi adonan tepung tapioka dan hungkueh. Tunggu sampai mendidih. Kurang lebih 1-2 jam, janggelan sudah jadi. Siap dipasarkan. Siap diolah. Siap dibuat untuk minuman jenis apapun.

Walaupun diolah secara tradisional, namun kualitas yang dihasilkan sangat bagus. Banyak diminati oleh konsumen. Karena sama sekali tidak mengunakan bahan pengawet kimia. Meski tampa bahan kimia, namun jangelan Bulukerto bisa bertahab selama tiga hari.

Jangelan produk Bulukerto dijual ke pasar tradisional di Purwantoro, Slogohimo, Jatisrono, Puhpelem, dan Bulukerto. Janggelan disetorkan ke pedagang jangelan, dawet,  jenang di pasar pasar. Harga janggelan Rp.25.000,- per ember.

Pak Ripno dan Bu Bugiyar pergi ke pasar sejak pagi setelah shalat subuh. Pukul 10.00 WIB sudah kembali ke rumah. Di rumah memasak janggelan lagi. Begitu setiap hari. Pak Ripno dan Bu Giyar dibantu empat karyawanya.

Bu Giyar mengaku setiap ember janggelan, ia bisa meraih untung Rp.5.000,-  sudah dikurangi biaya operasional, belanja bahan baku janggelan dan membayar upah keempat karyawanya. Bugiyar berharap mendapatkan bantuan dari pemerintah.

“Butuh alat penyaring jangelan. Selama ini menggunakan penyaring tradisional,” harapnya. Menjelang romadhan harga dagangan lain naik, namn janggelan tidak naik. “Mesakke bakul mas. Nek arep diundakke do sambat. Penting jupukke ajek yo wislah ora tak undakke regane,” (nano/baguss)

error: Content is protected !!