Hasil Penelitian Cekungan Air Tanah Di Eromoko oleh Profesor Dari ITB

0 110
Ketua tim  Penelitian Prof Dr Ir Sudarto Notosiswoyo M.eg.
Ketua tim Penelitian Prof Dr Ir Sudarto Notosiswoyo M.eg.

infowonogiri.com-EROMOKO- Hasil penelitian Cekungan Air Tanah (CAT) Eromoko yang dimulai dari awal September dan berakhir Nopember 2013. Penelitian dilakukan oleh Dinas Pengairan, Energi dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Wonogiri kerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Teknologi Bandung (ITB).

Presentasi laporan disampaikan di ruang Baru Setda Pemda Wonogiri Jumat (15/11). Penyampaian hasil disampaikan oleh Ketua tim Penelitian Prof Dr Ir Sudarto Notosiswoyo M.eg.
Menurutnya hasil penelitianya bersama timnya menyimpulkan CAT yang tersusun dari dua sistem akuifer. Yaitu akuifer endapan aluvial yang disusun dari satuan pasir hingga lanau dengan produktivitas rendah hingga sedang.
Satuan lempung dari endapan banjir menjadi lapisan pengekang (confining) unit bagi lapisan di bawahnya. Akuifer kedua berupa akuifer yang tersusun dari batu gamping. Akiufer ini merupakan akuifer berongga, di mana sistem akuifer memiliki produktifitas setempat cukup baik.
Potensi air tanah berlimpah di sebelah timur dan selatan CAT. Pemanfaatan air tanah di CAT Eromoko masih mengandalkan air tanah bebas yang memiliki produktivitas rendah, dengan kedalaman pemanfaatan kurang dari 30 meter.
Akuifer ini memiliki kerentangan, akibat produktifitas yang rendah dan rentan terhadap musim, di mana pada musim kemarau muka air tanah turun sehingga sumur sumur kering.
Sistem akuifer batu gamping CAT Eromoko memiliki daerah resapan utama di sebelah timur dan selatan dari cekungan dan sebagian kecil di bagian barat
Konservasi air tanah di CAT Eromoko di tunjukkan untuk mengonservasi resapan air tanah bebas dan resapan sistim air tanah tertekan. Di mana untuk air tanah bebas seluruh permukaan tanah merupakan daerah resapan. Sedangkan daerah resapan air tanah akuifer tertekan dan sebagian akuifer bebas dari sistem akuifer batu gamping berada pada perbukitan batu gamping dengan morfologi karst, di sebelah timur dan selatan cekungan.
Konservasi untuk menjaga kondisi muka air tanah agar tidak terjadi penurunan di zona tertentu adalah dengan melakukan pengaturan pengambilan air tanah (zonanisasi debit) dilakukan dengan mempertimbangkan potensi alamiah serta jarak antar sumur. Jika dilakukan pengambilan air tanah skala industri atau bukan untuk rumah tangga, maka jarak antar sumur diusahakan cukup jauh (lebih dari 1 km)
Potensi gangguan air tanah dan mengancam kerusakan air tanah adalah gangguan akibat adanya penambangan di daerah perbukitan gamping. Pemberian ijin penambangan perlu mempertimbangkan dan menghitung neraca hidrologi terutama besar resapan air tanah. Kajian hidrogeologi kusus daerah diperbukitan gamping diperlukan sebelum ijin kegiatan diberikan
Profesor menyarankan untuk tujuan pengawasan dan konservasi perlu adanya titik titik pemantauan, perlu adanya sumur sumur pantau, setidaknya di setiap kecamatan perlu ada lebih dari satu sumur pantau.
Pemantauan perlu dilakukan tidak hanya di sumur sumur dan mata air yang ada. Pemantauan juga di lakukan di daerah daerah resapan air tanah yang menjadi daerah konserasi resapan.
Jika ada pemberian ijin pengambilan air tanah untuk skala industri, maka ijin di berikan ke sistem akuifer tertekan / sistem air tanah dari batu gamping yang berada di bawah sistem air tanah aluvial. (N420)
error: Content is protected !!