Petani Di Selogiri Khawatir Mengalami Kerugian Hingga Rp.5 Milyar

0 46
Salah satu pintu air Dam Colo yang telah ditutup. Belasan anak dan remaja berburu ikan yang terjebak di bawah pintu Dam Colo.
Salah satu pintu air Dam Colo yang telah ditutup. Belasan anak dan remaja berburu ikan yang terjebak di bawah pintu Dam Colo.

infowonogiri.com – SELOGIRI – Sebagian petani di empat Desa di wilayah Kecamatan Selogiri resah. Menyusul rencana penutupan Dam Colo, pada Rabu (9/10) mendatang. Pasalnya jika aliran air sungai dari hulu Bengawan Solo itu ditutup, maka diyakini akan berdampak tanaman padi mereka puso. Akibatnya petani akan gagal panen.

Karena itu sebagian petani melalui Ketua Gapoktan Selogiri Joko Sutopo dan Sekretarisnya Purwanto berharap penutupan Dam Colo ditunda sampai tanggal 20 Oktober mendatang. Sebab petani masih membutuhkan dua kali oncoran (mengairi) untuk menyuburkan tanaman padi mereka sampai masa panen tiba.

Ketua Gapotktan dan Sekretarisnya telah menyampaikan harapan para petani kepada Camat Selogiri Bambang Haryanto, Minggu (6/10) kemarin. Bahwa para petani mendapatkan informasi rencana penutupan Dam Colo pada akhir September lalu. Pada awal Oktober lalu, pengurus Gapoktan menyampaian kepada Camat Selogiri.

Dibeberkan, lahan pertanian padi di wilayah Selogiri yang bergantung kepada pengairan Dam Colo kira kira seluas 405 H. Yaitu terletak di wilayah Desa Sendangijo, Nambangan, Jaten, dan sebagian Gemantar. Namun 151 H diantaranya sudah tidak membutuhkan air, karena usia tanaman tinggal menunggu masa panen.

“Lahan yang seluas 254 belum aman, masih membutuhkan dua kali oncoran, usia tanam 1,5 bulan,” tandas Purwanto. Camat Selogiri Bambang Haryanto meminta Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) memertimbangkan permohonan Gapoktan. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, antara produksi hasil pertanian di empat Desa itu tinggi.

Produksi padi mampu mencapai Rp.22 juta perhektar. Jika dikalikan Rp.254 H sama dengan Rp.5,588 Milyar. “Berarti jika dilakukan penutupan Dam Colo maka dampaknya puso. Kerugian akibat puso bisa mencapai Rp.5,5 Milyar,” kata Bambang Haryanto. Menurut Bambang Haryanto, penutupan Dam Colo merupakan kegiatan rutin tahunan, dan selalu berdampak gejolak. Karena itu Bambang berharap ada komunikasi antara BBWSBS dengan Gapoktan.

Purwanto menambahkan, langkah yang ditempuh beberapa petani untuk mengantisipasi jika benar dilakukan penutupan Dam Colo, sebagian petani akan membuat sumur bor atau menyedor air sungai menggunakan mesin disel.[Bagus]

error: Content is protected !!