Mengapa Petani Enggan Menanam Kedelai ?

0 139
Diskusi mengapa petani enggan menanam padi digelar di sawah dengan petani Desa Kedunggupit Sidoharjo
Diskusi mengapa petani enggan menanam padi digelar di sawah dengan petani Desa Kedunggupit Sidoharjo

infowonogiri.com – SIDOHARJO – Mengapa Petani Enggan Menanam Kedelai?. Ini salah satu pertanyaan aktual yang menjadi bahan diskusi antara kelompok petani Desa Kedung Gupit Kecamatan Sidoharjo dengan Petugas Penyuluh Lapangan Kecamatan Sidoharjo Dinas Pertanian Pangan dan Holtikultura Kabupaten Wonogiri, Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB), pada acara Uji Coba Display Lima Varietas Kedelai di Musim Kemarau, Senin (9/9) di lahan pertanian terasiring Desa Kedung Gupit Kecamatan Sidoharjo.

Dalam diskusi tersebut terungkap, ternyata menanam kedelai itu tidak mudah seperti menanam jagung, kacang atau jenis tanaman palawija yang lainnya. Antara lain, pertama karakter tanaman kedelai tidak membutuhkan suplai air dalam jumlah banyak, namun juga tidak mau kekurangan air sama sekali.

Kedua, sepanjang musim, sejak awal menanam sampai usia panen, tanaman kedelai selalu mendapatkan serangan hama. Sedikitnya terdapat enam jenis hama yang menyerang tanaman kedelai. Antara lain hama ulat batang, ulat daun, ulat buah dan beberapa hama lainnya.

Masih ada faktor lain? “Hasil analisa pasar, harga kedelai tidak terlalu menarik. Tapi itu bukan satu-satunya,” ujar salah satu anggota tim BPBS Jawa Tengah.

Saat ini harga kedelai Rp.9.300,- perkilogram. Akan tetapi ketika panen, petani hanya mampu menjual Rp.7.300,- perkilogram. Faktor anjloknya harga kedelai pasca panen juga menjadi penyebab petani enggan menanam kedelai.

Petani Wonogiri, khususnya, juga enggan menanam kedelai secara serempak. Pemasalahannya, ketersediaan air masing masing daerah berbeda satu sama lain. Di sisi lain, bagi daerah yang ketersediaan air cukup melimpah lebih memilih menanam padi dari pada menanam kedelai.

Bagi sebagian petani yang mau menanam, juga direpotkan oleh biaya produksi yang cukup tinggi. Dibandingkan dengan menanam tanaman palawija lainnya. “Sejak menanam sampai memanen butuh tenaga buruh yang tidak sedikit, makin banyak tenaga makin banyak biaya,” ujar Suratman Kordinator PPL Kecamatan Sidoharjo.

Di sisi lain ketika ada petani “nekad” menyiapkan lahan untuk menanam kedelai, petani kesulitan mendapatkan benihnya. “Benihnya di pasar sulit didapatkan,” ujar Suyat salah satu petani Desa Kedunggupit Kecamatan Sidoharjo.

Karena beberapa faktor itulah produksi kedelai petani tanah air -hususnya- Wonogiri jauh di bawah harapan. Suratman membeberkan, produksi kedelai di Wonogiri mampu mencapai 1,5 Ton perhektar. Namun faktanya, rata rata di bawah itu, yakni hanya mencapai 9 kwintal perhektar.

Faktor lain yang memengaruhi produksi kedelai menurun dan kualitasnya tidak baik, dikarenakan faktor iklim yang dirasakan cukup menyulitkan petani. Musim hujan takmenentu. Musim kemarau berkepanjangan.

“Petani Wonogiri bukan petani primitif, tapi juga bukan petani tradisional. Budaya tanam petani yang berubah-rubah menjadi faktor penyebab turunnya produksi kedelai,” tambah Suratman. Karena itu, Suratman menyarankan petani harus berfikir bisnis, dan kreatif, serta harus mampu mengkalkulasi biaya tanam dan biaya produksi.

Puncaknya, Surya salah satu anggota Kelompok Petani Desa Kedung Gupit Kecamatan Sidoharjo menyatakan siap untuk menanam kedelai pada musim penghujan mendatang. Suyar dkk memilih kedelai varitas Grobogab dan Anjasmoro. Dua jenis kedelai ini, karena biji kedelainya besar dan genjah (cepat berbuah), dan tidak terlalu membutuhkan banyak air. Usianya hanya kurang dari 70 hari. Kordinator PPL berharap, tanaman kedelain menjadi alternatif kedua setelah tanaman padi. Yakni dengan model tanam padi, padi kedelai.[Bagus]

error: Content is protected !!