Harga Tempe bisa Turun Karena 28.000 Ton Kedelai Siap Masuk Jateng

0 35
Kepala Divisi Regional (Divre) Badan Urusan Logistik (Bulog) Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Witono (paling kanan) dalam dialog tenta
Kepala Divisi Regional (Divre) Badan Urusan Logistik (Bulog) Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Witono (paling kanan) dalam dialog tenta

infowonogiri.com – SOLO – Kepala Divisi Regional (Divre) Badan Urusan Logistik (Bulog) Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Witono mengatakan guna mencukupi kebutuhan kedelai selama tiga bulan, Provinsi Jateng mendapat alokasi impor sebanyak 28.000 ton kedelai atau sekitar 75 persen.

Namun, jumlah itu masih akan didistribusikan ke 36 koperasi produsen tahu tempe (Kopti) di seluruh wilayah Jateng melalui Perusahaan Umum (Perum) Bulog.

Meski pihaknya akan mendapatkan jatah impor, kata Witono baru bisa dilakukan pada akhir tahun ini. Karena perizinan impor ini baru dikeluarkan pada akhir Agustus lalu. Disamping itu, hingga saat ini pihaknya juga belum mendapatkan negara yang mampu mengimpor kedelai sejumlah itu.

“Rencana impor kedelai dari luar negeri baru dapat terealisasi akhir Nopember hingga Desember mendatang,” kata Witono dalam acara Dialog Pendapatan Umum tentang Pertanian (Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Provinsi Jateng melalui Peningkatan Produksi dan Ketersediaan Komoditas Kedelai) di Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) II Provinsi Jateng Jl Slamet Riyadi Solo, kemarin.

Ia mengatakan, impor kedelai ini dipastikan dari Amerika Latin, dan Argentina. Melihat realisasi impor kedelai yang dilakukan ini, dipastikan kelangkaan bahan baku pembuatan tahu dan tempe yakni kedelai, akan mengalami kelangkaan hingga akhir tahun. Kedelai impor, kata Witono akan dijual Rp8.490 per kilogram, lebih murah dari harga di tingkat produsen yang ada di kisaran Rp8.300 per kilogram. Pasalnya, harga itu telah disesuaikan dengan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomer 49 Tahun 2013 dan baru dapat direvisi setelah tiga bulan mendatang.

Lebih lanjut, dia mengatakan guna mengatasi kelangkaanitu, pihaknya telah mengupayan komuditas kedelai lokal dari Wonogiri, dan Grobogan, Purwodadi. Kedelai asal Grobogan ini katanya sebagai varietas terbaik di dunia. Karena kandungan nutrisi yang ada yakni protein mencapai 45 persen debandingkan kedelai di luar negeri.

Meski demikian, saat ini kedelai Grobogan ini  baru memasuki musim tanam dan baru dapat dipanen pada Desember mendatang. “Grobogan ini merupakan salah satu pemasok kedelai terbesar di Jateng, yakni 45 persen. Secara nasional sebesar 7,72 persen dengan produksi rata-rata 65.755 ton dari luas lahan 27.170 hektar,” bebernya.[Zamani]

error: Content is protected !!