Guru Agama Itu Terbukti Memukul Menjambak dan Menarik Krah Baju Korban

0 49

wonogiri

infowonogiri.com – BATURETNO  – Terdakwa kasus penganiayaan terhadap anak anak, yaitu Ikhsan Azhari (40) warga Baturetno dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar pasal 80 ayat 1 UU nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak.

Majlis hakim yang dipimpin oleh Hera Kartiningsih menjatuhkan hukuman 2 bulan penjara dan denda materi Rp.30 juta, jika denda materi tidak dibayar maka terdakwa wajib menjalani hukuman selama 15 hari. Vonis tersebut separuh lebih murah dari tuntutan jaksa penuntut umum.

Dalam sidang sebelumnya, jaksa penuntut umum (JPU) menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama empat bulan dan denda Rp.30 juta. Hal itu dikemukakan oleh Ketua Majlis hakim Hera Kartinisih yang juga Humas Pengadilan Negeri Wonogiri, Rabu (24/7).

Mantan hakim Tipikor di wilayah Pengadilan Jawa Tengah ini mengatakan, sidang vonis digelar Selasa (23/7) kemarin. Terdakwa, yang bekerja sebagai guru pada dua yayasan, yakni Yayasan Pancasila dan Yayasan Muhammadiyah ini hadir sendirian.

Menangapi putusan tersebut, terdakwa warga Desa Setrorejo Kecamatan Baturetno ini menyatakan pikir-pikir. Majlis hakim memberikan kesempatan selama sepekan untuk memberikan jawaban. “Hukumannya memang lebih ringan, tujuannya agar bisa menjadi pelajaran,” kata Hera.

Anak yang menjadi korban kehilafan terdakwa adalah Alf (10) siswa kelas IV SDN 3 Setrorejo, Baturetno. Dalam persidangan terdakwa terbukti memukul pipi kiri Alf. Akibatnya kepala korban membentur kursi panjang. Korban memar selebar 2 x 2 cm, pelipis tergores dan kepalanya benjol.

Terdakwa juga terbukti menjambak rambut korban dan mencengkeram krah leher bagian depannya. Dalam keterangannya Ikhsan melakukan tindakan itu karena tidak terima putrinya, Ind, dipukul Alf.

Menurutnya, Alf memukul anaknya. Namun pukulannya tidak mengakibatkan Ind sakit. Alf memukul Ind karena merasa telah diolok-olok oleh anak kandung terdakwa.

Penganiayaan yang dilakukan terdakwa dinilai arogan. Terdakwa masuk ke dalam kelas sekira pukul 10.00 WIB. saat jam istirahat. “Meski tidak dalam proses pelajaran, semestinya, Ikhsan masuk ke ruang kelas harus ijin gurunya terlebih dulu. Tetapi terbukti tidak ijin,” kata Hakim.[Bagus]

error: Content is protected !!