Sepertinya Pejabat dan Aparat Wonogiri Tak Mendengar dan Tak Melihat Ada Kafe Liar

1 71
Ruko yang ditempati sebagai Rumah Makan dan Karaoke Diamor 1 di krisak Selogiri
Ruko yang ditempati sebagai Rumah Makan dan Karaoke Diamor 1 di krisak Selogiri

infowonogiri.com – SELOGIRI – Sepertinya sulit dipercaya, jika aparat penegak hukum dan pejabat Pemda Wonogiri mengaku tidak tahu atau belum mengetahui bahwa di Desa Singodutan Kecamatan Selogiri telah berdiri Kafe Illegal alias Kafe Liar (KL).

Apakah karena KL tersebut didirikan oleh oknum Pejabat Pemda Wonogiri? Ataukah karena dibekingi oleh oknum Pejabat Wonogiri. Sepertinya mustahil, jika aparat dan pejabat Pemda Wonogiri belum mendengar atau belum mengetahuinya?

Sebab pada malam hari, saat KL tesebut beroperasi, maka dari luar ruko, deru musik dapat terdengar dari luar ruko. Karena dinding ruang kafe itu memang tidak berstandar studio  yang kedap suara.

Apakah telinga aparat dan pejabat itu tidak mendengar, dan apakah tidak melihatnya? Sebab, selain keberadaan KL itu didirikan di kawasan dekat dengan perkampungan penduduk, yaitu di Lingkungan RT 01 RW 01 desa setempat.

Kafe tersebut juga berdekatan dengan pusat keramaian. Yaitu terminal Krisak Selogiri. Di terminal Krisak Selogiri juga terdapat Pos Polisi Satlantas Polres Wonogiri. Bisa dipastikan setiap hari, siang sampai malam pos polisi tersebut selalu ada yang bertugas jaga (piket).

Selain itu, letak Kafe Liar itu juga bertetangga dekat dengan rumah anggota perwira anggota Satlantas. Ruko yang ditempati oleh KL tersebut juga tidak terlalu jauh dengan Kantor Desa Singodutan, Kantor Kecamatan, Kantor Koramil dan Kantor Polsek (Muspika) Kecamatan Selogiri. Bukankah Muspika Kecamatan Selogiri mempunyai anggota Babinkamtibmas, Babinsa dan Polmas? Tugas meraka ngapain saja ya??

Tetapi faktanya, Kepala Desa Singodutan Karsanto, terang terangan mengaku tidak tahu ada Kafe Liar di wilayahnya. “Saya tidak tahu. Karena terus terang saya baru menjabat sebagai Kades belum lama, dilantik Pebruari 2013 lalu,” kata Karsanto.

Hal yang sama dikemukakan oleh Ketua RT 01 RW 01 Sugiarti. “Saya belum tahu ada kafe di situ mas (depan terminal red). Pernah ada yang ke sini mau minta tanda tangan untuk mengurus ijin. Tapi saya tidak mau menandatanganinya. Saya mau ngecek sendiri ke sana tidak berani. Karena saya perempuan,” ujar Sugiarti.

Meski orang tersebut terkesan memaksanakan diri untuk bisa mendapatkan tandatangan Ketua RT, namun Sugiarti bersikukuh tetap tidak mau menandatangani. Kemudian orang tersebut pergi pamitan. Belakangan lelaki tersebut diketahui berinisial Ld. Ld adalah petugas keamanan KL.

Jarak rumah Ketua RT dengan KL relatif dekat. Hanya berjarak kurang dari 150 M. Pada kesempatan lain, selang sebulan lebih, menurut pengakuan Sugiarti, Ld datang lagi ke rumah Ketua RT. Pada kedatangan ke dua kalinya, Ld menyerahkan se buah amplop yang berisi uang. Katanya uang yang berada di dalam amplop tersebut disumbangkan untuk kas RT.

Namun Sugiarti mengaku tidak tahu berapa isinya. “Dia sudah tiga kali menyerahkan amplop, katanya untuk kas RT. Tapi saya tidak tahu berapa isinya. Karena belum pernah saya buka. Masih utuh. Saya takut mau membukanya. Dia datang setiap bulan. Bulan ini belum datang,” ujar Sugiarti.

Sugiarti mengaku bingung menyikapi orang tersebut. Sugiarti juga mengaku takut setelah mengetahui, ternyata tanggungjawab menjadi ketua RT sangatlah berat. “Terus terang saya gobyos (berkeringat) mas ketemu njenengan (kamu), bingung, arep takselehke (akan saya letakkan jabatannya sebagai ketua RT,” katanya.[Bersambung] [Bagus]

error: Content is protected !!