Ribut Wibowo Lelaki Malang Dari Bulukerto

1 60
Ribut Wibowo Lelaki Malang Dari Bulukerto
Ribut Wibowo Lelaki Malang Dari Bulukerto

infowonogiri.com – BULUKERTO – Ribut Wibowo namanya. Sering dipanggil Slamet. Umurnya baru 10 tahun. Bertempat tinggal di Desa Nadi Lor RT 03 RW 04 Desa Nadi Kecamatan Bulukerto, bersama pamanya.

Slamet tergolong sebagai anak terlantar yang hidup mengharap bantuan saudara dan tetangganya. Slamet tak bisa hidup selayaknya anak seusianya. Karena dia menderita cacat pada mata sejak lahir. Bola matanya tampak keruh. Tatapan matanya seperti kosong, tidak bisa untuk melihat dengan jelas.

Sebenarnya kedua orang tuanya masih ada. Akan tetapi telah berpisah dan memilih hidup sendiri-sendiri. Slamet pernah hidup bersama Marimin (57) kakeknya. Namun kakeknya saat ini tidak diketahui di mana tinggalnya. Kabarnya karena terbelit hutang lalu menghindar pergi entah ke mana.

Kehidupan sehari hari dihabiskan waktunya untuk bermain di sekitar rumah pamanya. Teman teman seumurnya semua bersekolah. Sedangkan Slamet tidak bersekolah karena malu dan minder dari teman teman sebayanya. Slamet sering diejek dan dipojokkan oleh teman temanya. Setiap bermain dia memilih berkumpul dengan anak anak yang berusia di bawahnya. Bahkan terkadang memilih menyendiri.

Pada sore hari digunakan untuk membantu pamanya mencetak batu bata. Pernah juga diajari membaca, menulis dan berhitung oleh tetangganya. Akan tetapi karena kondisinya tidak begitu antusias, kegiatan belajar tak berlangsung. Harapan dan cita cita Slamet ingin memiliki sepeda motor, kelak. Jika sudah besar nanti.

Sementara Dwi Haryanto (27) adalah paman dari Slamet. Sekarang adalah pengasuhnya dia mengatakan bahwa Slamet adalah anak yang tidak nakal. Akan tetapi dia rendah hati karena cacat yang dideritanya. Karena sering diejek teman Slamet tidak mau sekolah. “Kalau bersekolah mungkin sudah kelas 4SD,” ujarnya.Ibunya bernama Iswanti (30) sekarang tinggal di Butuh Slogohimo. Kini telah menikah lagi dan dikarunia satu anak dengan suaminya sekarang.

Sedangkan Bibit (36) ayahnya, juga memilih kehidupan sendiri. Jika bertemu ayahnya menyapa saja tidak, apa lagi mengakuinya. Kasih sayang dan perhatian tak pernah tercurahkan. Sungguh disayangkan mengapa setega itu? Bukankan anaklah yang nantinya akan menolong dan menyelamatkan orang tua. Yaitu anak sholeh dan sholehah. (rama)

error: Content is protected !!