Korban Penganiayaan Polisi Cabut Surat Kuasa Pengacaranya

0 43
Susanto bersama ibunya | Foto Bagus
Susanto bersama ibunya | Foto Bagus

infowonogiri.com – WONOGIRI -Keluarga Susanto alias Nyekris (30) korban penganiayaan oleh oknum anggota Polres Wonogiri telah mencabut surat kuasa yang diberikan kepada Hari Sulistyono SH dan Rekan. Alasannya keluarga Susanto sudah tidak dengan cocok dengan cara bekerjanya.

Dengan demikian sejak dicabutnya surat kuasa tersebut, Susanto tampa pengacara alias berjalan sendiri untuk mengawal kasus yang membelitnya. Demikian pula, Hari Sulistyono tidak lagi berhak mendampingi atau mewakili Susanto dalam perkara tersebut.

“Surat kuasa yang saya berikan ke pak Hari Sulistyono sudah saya cabut. Alasannya karena saya sudah tidak cocok lagi dengan caranya bekerja. Saya sudah tidak percaya lagi dengan pak hari. Sampai sekarang belum jelas. Saya bingung, seperti menggantung,” ujar Tukiman ayah Susanto.

Tukimo alias Gimo paman Susanto menambahkan, bahwa awal pertemuan keluarga Susanto dengan Hari Sulistyono SH dan rekan, karena diperkenalkan dengan tetangganya. Setelah berkenalan kelaurga Susanto dan Hari Sulistyono bersepakat untuk menjalin ikatan.

Yaitu Susanto membuat dan memberikan surat kuasa kepada Hari Sulityono untuk mendampingi kasusnya. Hari Sulistyono sebagai pengacara bersedia mendampingi. Namun dalam perjalanannya, keduanya belah berbeda kepentingan dan akhirnya surat kuasa dicabut.

Hari Sulistyono SH Pengacara Susanto | Foto bagus
Hari Sulistyono SH Pengacara Susanto | Foto bagus

Hari Sulistyono juga merasa tidak keberatan atas dicabutnya surat kuasa itu. Hari merasa selama ini tidak pernah diperintahkan atau ditugaskan untuk melangkah. “Saya ini bekerja sesuai surat kuasa. Selama ini saya tidak pernah diberi tugas,” katanya.

Hari menambahkan, pihaknya merasa sudah cukup membantu mengawal kasus Susanto. “Dalam surat kuasa yang hanya mendampingi sampai pelaporan kasus itu ke polisi. Dan saya sudah mengawalnya,” tandas Hari Sulistyono.

Susanto (30) didampingi Tukiman ayahnya dan Tukimo alias Gimo warga Salak Giripurwo Wonogiri tetap menuntut agar oknum anggota Polres Wonogiri diproses sesuai hukum yang berlaku. Yaitu UU Kepolisian atau yang dikenal kode etik kepolisian, dan Peradilan Umum yaitu berdasarkan Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP).

“Kami tetap menuntut oknum polisi itu dituntut sesuai hukum yang berlaku. Kami tetap menuntut, harkat dan martabat kami harus dikembalikan. Proses peradilan umum, kode etik kepolisian dan kami tetap akan mempraperadilankan kepolisian,” ujar Gimo.

Alasan mempraperadilankan Polres Wonogiri, petama; karena Susanto ditangkap tampa membawa surat perintah penangkapan dari Polres. Kedua; Satreskrim Polres Wonogiri telah menahan tampa dasar yang kuat melebihi 1 x 24 jam (sehari semalam). Atas tindakan tersebut kepolisian diduga melanggar kitab undang undang acara pidana (KUHAP).

Oknum anggota Polres Wonogiri saat menangkap Susanto –juga- tampa membawa surat penangkapan. Surat penangkapan baru diantar ke Susanto di RSUD SMS Wonogiri, dalam posisi Susanto sudah tak berdaya. Sesuai aturan, polisi hanya boleh mengamankan seseorang selama 1 kali 24 jam. Faktanya Susanto diamankan 48 jam lebih.

Seperti diberitakan sebelumnya, Susanto diciduk empat polisi, Senin (4/2) lalu. Mereka adalah Aiptu Pan (Polsek Jatipurno), Briptu Ad (Wuryantoro), Bripka Ag (Eromoko), Bripka Rof (Kismantoro). Susanto difitnah nyolong burung lovebird 2011 silam. Rabu (6/2) sore, Susanto dilepas dalam kondisi terluka berat, hingga opname di RS SMS Wonogiri.[Bagus]

error: Content is protected !!