Ketua Osis SMPN 3 Baturetno Dikeroyok Kakak Kelas

1 141
SMP N 3 Baturetno | Foto Rosady
SMP N 3 Baturetno | Foto Rosady

infowonogiri.com – BATURETNO – Ketua OSIS SMPN 3 Baturetno, Ipung Setya Utama (14) menjadi korban pengeroyokan empat siswa kakak kelasnya, Jumat (1/3/13). Pengeroyokan oleh siswa senior terhadap siswa yunior itu terjadi di kamar mandi sekolahan.

Akibat penganiayaan itu, Ipung dirawat di Puskesmas Rawat Inap Baturetno. Ipung yang berseragam pramuka itu menduga, penganiayaan secara masal itu merupakan imbas dari upaya penegakan disiplin oleh OSIS terhadap anggotanya.

Kronologisnya, Ipun ditugasi oleh pembina OSIS untuk melakukan penertiban atribut sekolah. Di antara empat pelaku pengeroyokan –semuanya siswa kelas IX- ada yang memakai ikat pinggang yang tidak sesuai tata tertib. Sebagai ketua OSIS, Ipung mengingatkannya.

Di antara empat tidak terima atas teguran Ipung. Sekira pukul 09.00 WIB, Ipung dihampiri empat kakak kelasnya. Ipung lantas diseret ke kamar mandi. Di antara pelaku, Ipung mengaku ada dua yang mengenalnya. Yaitu David dan Kikis. “Dua pelaku lain saya tidak kenal,” katanya.

Ipung menceritakan, di dalam kamar ia dipukui pada bagian dada dan perutnya. Akibatnya ia terjatuh. Pada posisi terjatuh, Ipung diinjak-injak perutnya dan disabet dengan sabuk (ikat pinggang). Pasca dikeroyok, Ipung ditinggalkan di kamar mandi.

Ipung berusaha bangkit dari dalam kamar mandi. Dengan sempoyongan dan mata berkunang kunang, Ipung meminta tolong kawan sekolahnya untuk diantarkan ke UKS. “Kemudian saya diantarkan ke Rawat Inap,” tuturnya.

Di Rawat Inap, Ipung ditunggui ibu kandungnya, Aminah. Aminah mengemukakan, anaknya sempat diantarkan pulang ibu gurunya. Gurunya mengatakan, Ipung terluka akibat bergurau dengan kawannya. Beberapa saat di rumah, Ipung kembali mengeluhkan sakit di dadanya.

Aminah kemudian mengantarkan kembali ke rawat inap. Aminah mengatakan tidak terima. “Saya saja belum pernah menyakiti anak saya. Karena itu saya ingin masalah ini diproses sesuai hukum yang berlaku,” katanya. Karena itu keluarganya memilih melaporkan ke polisi.

Sementara Kepala SMPN 3 Baturetno Dwi Marwoto mengatakan peristiwa tersebut benar terjadi di sekolahnya. Namun, dia belum bisa bercerita banyak lantaran masih mengikuti diklat di Wonogiri.[Bagus]

error: Content is protected !!