Hari Giniii…… Masih Ada Polisi Main Hakim Sendiri

4 72
 Susanto didampingi ayahnya | Foto bagus
Susanto didampingi ayahnya | Foto bagus

infowonogiri.com – WONOGIRI – “Polisi Sebagai Pelayan Pengayom, dan Pelindung Masyarakat” tampaknya hanya hiasan yang terpasang di pinggir perempatan jalan, di tempat keramaian dan di kantor kepolisian. Terbukti masih saja ada tindakan polisi yang bertentangan dengan semboyan itu.

Seorang pemuda, mengaku menjadi korban penganiayaan oleh oknum polisi.  Adalah Susanto alias Kris (30) warga Lingkungan Salak RT 4 RW 03, Kelurahan Giripurwo, Kecamatan Wonogiri Kota. Sejak Rabu sore (6/2/13) kemarin, Kris terbaring di bad bangsal Anggrek nomor 9 RSUD Soediran Mangun Soemarso (SMS) Wonogiri.

Kris ditemani teman dekatnya, Susanti. Susanti, duduk di ujung bawah bad tempat Susanto dirawat. Selain Susanti, ayahnya kandung Susanto, Tukiman (56) juga turut menunggui anak kedua dari empat suadaranya itu. Tukiman duduk di ujung atas dipan bangsal kelas ekonomi ini.

Sedangkan ibunya, Sugiyarti (47) terduduk menunggui di lantai keramik rumah sakit. Susanto secara perlahan lahan menceritakan, ia sebenarnya tidak ingin menginap di rumah sakit. Ia terpaksa menjalani rawat inap di rumah sakit, karena ia sudah tidak kuat lagi menahan sakit.

Sakit yang ia derita disebabkan karena dianiaya oleh sejumlah anggota Polres Wonogiri, dan anggota Polres Sukoharjo. Dari sekian gerombolan polisi berseragam preman itu, ia mengaku mengenali salah satunya. Adalah polisi berinisial Pan yang pernah bertugas sebagai anggota reskrim.

Peristiwa itu penganiayaan itu terjadi di Mapolsek Selogiri. “Selama dua hari dua malam saya disekap. Saya diinterogasi. Saya dipukuli, diinjak-injak kakinya. Leher saya dicekik dengan tali tas. Dalam posisi leher dicekik, kepalanya saya dipukuli,” ujar Susanto.

“Saya waktu itu hanya berpikir mungkin saya akan mati hari itu,” tandas Kris, nama panggilan Susanto. Kris mengaku, selain dipukuli kepalanya, diinjak kakinya, dicekik lehernya, punggung dan pantat bagian atasnya juga didengkul, oleh oknum polisi. Ia juga mengaku diestrum dengan alat bertenaga listrik.

Tidak hanya itu, selama penyekapan ia tidak pernah dikasih makan dan minum oleh petugas kepolisian. “Saya dapat minum setelah Susanti mengirimkan minuman dan makan ke saya. Tapi saya tidak mau makan, karena rahang dan leher saya untuk makan,” katanya. Selain itu, ia juga merasakan sakit pada saat buang air. “Air kencing saya berwarna merah, berdarah” tandasnya.

Kris menceritakan ia ditangkap polisi berseragam preman pada Senin (4/2/13) kemarin. Saat penangkapannya pun tidak menunjukan surat tugas penangkapan. Kemudian Kris digelandang ke Mapolsek Selogiri. Di sana ia dituduh terlibat aksi pencurian burung di dua tempat, yaitu di sekitar RS Marga Husada dan di Salak Giripurwo Wonogiri.

Karena merasa tidak pernah mencurian seperti yang dituduhkan polisi, Kris tetap tidak mengakuinya. Meski ia telah dipres, disiksa dan diinterogasi seperti jaman kompeni, ia tetap saja tidak mengakuinya. “Saya rela mati demi harga diri dari pada disuruh mengaku padahal saya tidak pernah mencuri,” ujar pria bermain music ini.

Setelah polisi gagal mendapatkan pengakuan Kris, kemudian polisi mempertemukan dengan Angga dan Totok. Totok adalah warga Sukoharjo dan Selogiri. Keduanya telah mengakui jika telah mencuri burung di wilayah Wonogiri. Atas ocehan keduanya itulah, polisi menciduk Kris. “Saya ini dicokot oleh Angga. Angga dicokot Totok. Saya tetap tidak mengakuinya,” ujarnya.

Karena tidak cukup bukti, polisi akhirnya melepaskan Kris. “Saya pulang ke rumah, sampai di rumah saat turun dari motor, saya berjalan sempoyongan. Saya tidak kuat. Saya terjatuh. Lalu saya diantarkan ke rumah sakit ini,” tandasnya.

Atas peristiwa tersebut, Kris dan kedua orang tuanya mengaku tidak terima atas perbuatan polisi yang telah bertindak main hakim sendiri. “Saya tidak terima. Pokoknya saya tidak terima. Saya mau menuntut. Sya tidak pernah memukul anak saya,” kata Tukiman dan istrinya, padagang ayam goreng tepung ini.

Direktur RSUD SMS dr Setyarini melalui Kasi Pelayanan Medik, dr Adhi Dharma mengatakan hasil rotgen pasien atans nama Susanto, mengalami patah pada jari kelingking. Sedangkan kencing darahnya dan luka akibat jeratan masih dalam pemeriksaan.[bagus]

error: Content is protected !!