Tanjungsari Terkenal Sebagai Penghasil Mente Super

0 193

pedagang oshe mete di pasar Sidoharjoinfowonogiri.com – JATISRONO – Desa Tanjungsari dari jaman dahulu terkenal sebagai penghasil makanan ringan berbahan penthol mente, buah dari jambu monyet. Atau yang lebih dikenal dengan kacang mete. Hampir 80 persen penduduk setempat, menekuni usaha mete. Ada yang bekerja sebagai petani –sampingan-, pengepul, tengkulak dan buruh ceklok (pengupas) mete di Desa setempat.

Seperti halnya yang di lakukan oleh Narto (65th) dan Sami (55th). Dia mengaku, sejak tahun 1970-an, pasangan suami istri ini menekuni usaha menjadi perajin mete, hingga sekarang. Ia bekerja dibantu anak anaknya. Narto setiap hari me-ngupas mente dibantu keluarganya. Dalam sehari hanya mampu menghasilkan 2 kg mete. Namun jika dibantu 4-5 anggota keluarganya bisa mencapai 5-7 kg mete.

Bahan baku klatak mente (glondong) didapatkan dari masarakat sekitar. Baik dari pasar Jatisrono, Slogohimo, Jatiroto dan beberapa daerah Kecamatan tetangga lainnya. Terkadang dikirim tengkulak dari luar daerah. Harga klatak mente  Rp10.000,-  perkilogram. Mete kering siap goreng saat ini Rp.52000,-. Mete kualitas bagus Rp.60.000,- perkilogram.

Sedangkan mete super  harganya Rp 70.000,- perkilogram. Agar bisa mendapatkan mete super maka harus disortir per-10 kilogram mete biasa. Padahal untuk mente satu kilogram ini dihasilkan dari 4 kilogram klatak. Mete yang dihasilkan Narto-Sami ini dipasarkan ke daerah sekitar dan toko jajanan khas Wonogiri.

Narto-Sami juga mempunyai pelangan tetap. Yaitu pedagang jajanan dari Wonogiri kota. “Bulan seperti sekarang ini sepi. Lima bulan sebelum lebaran banyak datang pesanan dari mana-mana,” ujar Narto kepada IW. Dalam sehari Narto-Sami bisa meraup untung minimal Rp.50.000,- saat sepi. Waktu lebaran bisa mendapatkan keuntungan jauh lebih banyak. Namun semua itu tergantung jumlah stok.[n420]

error: Content is protected !!