Rumah Terendam Banjir ,150 Ribu Ekor Ikan Hanyut

0 47

banjir di selogiriinfowonogiri.com – SELOGIRI – Sebanyak 62 rumah di Lingkungan Nanggan, Kelurahan Gemantar, dan Desa Jaten Kecamatan Selogiri terendam banjir, Sabtu malam (5/1). Selain itu, banjir juga merendam sekitar 100 hektar sawah dan menghanyutkan 56 ribu benih ikan nila, lele, dan gurameh. Sementara, hujan yang terjadi sesaat sebelum banjir juga memicu longsor di enam titik di Desa Pare, Desa Keloran dan Desa Kepatihan, semuanya di Kecamatan Selogiri.

Camat Selogiri Bambang Haryanto mengatakan 62 rumah di antaranya berada di Lingkungan Nanggan. Sedang tujuh rumah lainnya ada di Jaten. Sementara, sawah yang terendam ada di beberpa desa di Selogiri. “Benih ikannya ada di Nanggan semua. Tidak ada korban jiwa. Hanya kerugian material,” katanya.

Sedang longsor di Keloran terjadi pada sebuah talut jalan. Longsor itu menimpa sebuah rumah warga. Tapi, kerusakannya tidak parah. Sementara, longsor di Desa Kepatihan terjadi pada saluran irigasi sepanjang enam meter. Di Desa Pare, longsor terjadi di empat titik. Semuanya menimpa tembok rumah warga. Tapi, kerusakanya tidak terlalu parah. Bambang Haryanto menyebutkan, kerusakan hanya terjadi di tembok rumah.

“Di Pare, longsor menimpa rumah Mbah Sukijo, Mbah Mijo, dan Mbah Katimo, serta rumah Pak Kadus, saya lupa namanya. Longsornya terjadi bareng sekitar pukul 20.00. Pas hujan deras. Banjirnya terjadi setelah itu. Sekitar pukul 22.00. Sekarang banjirnya sudah surut. Padi yang sempat terendam ambruk dan bepotensi rusak,” tandas Bambang Haryanto. Semalam Bambang meninjau lokasi banjir.

Secara terpisah, Bambang Sardiyanto, anggota Fraksi PDIP DPRD Wonogiri asal Selogiri mengatakan banjir itu terjadi setiap tahun. Karena kondisi itu, dia minta pemkab mencari solusi permanen. Hal itu diperlukan agar banjir tidak lagi naik ke perkampungan. Best Bitcoin Wallet 2019 | Comparison of Bitcoin Wallets

Satu-satunya solusi itu menurut Bambang adalah dengan menormalisasi dua anak sungai yang alirannya bertemu di sekitar Nanggan sebelum mengalir ke Sungai Bengawan Solo.

Dua anak sungai itu menurut dia mengalami pendangkalan karena sedimen dari hulu. Itu masih ditambah dengan aktivitas pertanian yang membuat anak sungai makin dangkal dan sempit. Aktivitas pertanian yang biasa terjadi adalah membendung sungai ketika musim kemarau. “Kalau tidak ada normalisasi, saya yakin setiap tahun banjir akan selalu terjadi,” tambahnya.[[email protected]]

error: Content is protected !!