Puluhan Kuli Proyek Bangunan Pintu Air WGM belum dibayar

2 71
Alat berat dioperasaikan untuk membangun spilway

infowonogiri.com – WONOGIRI – Gaji puluhan tenaga kerja (naker) proyek pembangunan spilway baru (pintu air) Bendungan Serbaguna Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri belum dibayar. Akibatnya mereka tidak bisa membayar kas bon di warung tempat mereka makan.

Selain itu, mereka tidak boleh lagi makan di warung di sekitar tempat mereka mengontrak rumah di Pokoh Kidul Wonogiri Kota. Terpaksa mereka pulang ke kampung halamannya ke Purwodadi dan Semarang, tanpa membawa uang sepeserpun.

Mereka mengaku diusir karena tidak bisa membayar kasbon di warung. “Saya diusir karena tidak boleh makan. Masak sendiri juga sudah tidak bisa, karena tidak punya uang belanja sembako,” ujar Masturi (41), Minggu (23/12)..

Terpaksa mudik tanpa karena belum gajian. Sudah tidak boleh makan di warung karena terlalu banyak ngebon

Masturi dan kawan kawan, mengaku sudah tidak mampu bertahan, untuk menunggu sampai bayaran. “Malu rasanya. Pulang juga terpaksa, sampai rumah juga malu sama kelaurga. Jauh jauh merantau sampai Wonoiri pulang tidak membawa hasil,” ujar Masturi (41), Minggu (23/12) kemarin.

Masturi tidak sendirian. Mereka bersama sekitar 35 orang dari Semarang dan Purwodadi. Yaitu Masturi (41), Siswanto (50), Muhadi (40), Nurhadi (40), Sutarto (32), Yanto, Saeful, Taufik, Munir, Bagong, Yadi, Kholik, Suwaji, Gatot, Jono, Slamet, Jangkrik.

Semua berasal dari Dusun Munggahan Desa Ngembak Kecamatan Purwodadi. Mereka terdiri dari tukang kayu, dan tukang besi. Mereka bekerja membuat kolom dan begisting pembangunan spilway Bendungan Serbaguna WGM di di Dusun Petir Desa Pokoh Kidul Wonogiri.

Sedangkan rombongan Semarang antara lain bernama Feri, Deni, Hendro dan Nur. “Rombongan saya enam orang dari Semarang, saya juga belum bayaran tiga minggu,” kata Nur dan Deni. Mereka dijanjikan mendapat upah Rp.50 ribu perhari. Tukang besi maupun kayu sama.

Selain pekerja, tiga orang pemilik warung juga turut menjadi korban. Karena kasbon kuli bangunan itu rata rata telah mencapai Rp.400 ribu perorang. Salah satu pemilik warung membenarkan, ketika ditanya kabar belum dibayarnya puluhan kuli bangunan tersebut.

Sejumlah tenaga kerja maupun pemilik warung mencurigai, bayaran mereka belum diterima karena disalahgunakan oleh mandornya. Kecurigaan yang sama dikemukakan oleh pemilik warung. “Informasinya uangnya sudah turun dari kantor, tapi disalahgunakan oleh mandornya,” katanya.

Mandornya berinisial E, tinggal di Desa Pokoh Kidul Kecamatan Wonogiri. E adalah anak menantu Kepala Desa Pokoh Kidul, Wuryatno. Wuryatno adalah calon kepala terpilih pada Pilkades (19/12) lalu. Isunya, uang gajian para kuli bangunan digunakan untuk nyalon Kades mertuanya.[[email protected]]

error: Content is protected !!