Menambang Pekerjaan Warisan

0 122
Teguh Waluyatmo Camat Tirtomoyo | Foto Bagus

infowonogiri.com -TIRTOMOYO – Camat Tirtomoyo, Teguh Waluyatmo mengatakan, bahwa pekerjaan menambang batu kali (sungai) seperti yang dilakukan oleh sebagian warga masyarakat Tirtomoyo adalah pekerjaan warisan. Yang telah dilakukan secara turun termurun, mulai dari kakek-nenek, ayah-ibu sampai anak cucu mereka.

Belakangan ini penambangan berdampak negatif bagi pertanian. Hal tersebut sebenarnya sudah dipikirkannya. Antara lain sebagian pertani di wilayah Genengharjo, Girirejo, Sukoharjo, Wiroko dan Banyakprodo kesulitan mendapatkan air pada saat musim kemarau. Sehigga para pertani tidak bercocok tanam/menanam padi.

“Penambangan sekarang sudah terkesan ngawur. Menyelesaikan masalah penambangan batu ini sulit seperti mengurai benang kusut,” kata Teguh Waluyatmo usai kegiatan sosialisasi CSR Pertambangan di Pendopo Kecamatan Tirtomoyo, Selasa (13/11) kemarin.

Dalam persoalan penambangan batu, terdapat mata rantai yang tak terputus. Yaitu petani pemilik lahan atau sawah, pencari batu, pengepul, pengemudi truk, dan pengusaha serta pengguna. Karena itu untuk mengatasi solusi itu, Muspika Kecamatan Tirtomoyo mendirikan Paguyuban Selo Manunggal sejak tahun 2010 lalu, sejak ia menjabat.

Paguyuban Selo Manunggal diketuai oleh Totok Taman warga Desa Wiroko Kecamatan Tirtomoyo. Totok tidak lain adalah pengusaha penambangan. Di Tirtomoyo, menurut Teguh ada empat pengusaha. Yaitu Totok sendiri yang memiliki CV Sehati, Daris, Slamet, Tarno.

Sedangkan dari luar Kecamatan Tirtomoyo yang menambang di wilayah Tirtomoyo adalah Putra Diafan Wonogiri dan perusahaan asa Kecamatan Sidoharjo. “Kami sering mengumpulkan mereka di sini. Awalnya karena terjadi persaingan harga,” tambah Teguh.

Soal keluhan petani yang mengaku kesulitan air belakangan ini, Teguh membenarkan, namun pihaknya mengaku belum pernah mendengar langsung dari petani. “Komplain dari masyarakat kita bahas. Kita sarankan hal terburuk agar diantisipasi,” pungaksnya.

Yang dimaskud Teguh, adalah persaingan harga saling berlomba lomba membeli harga batu dengan mahal. Pada tahun 2010 peririt Rp.95 ribu dari petani ke pengepul. Pengepul ke supir dijual Rp.100 ribu.

Dari supir ke pengusaha kraser Rp.170 ribu. Dari pengusaha dijual ke pengguna sekira Rp.250 ribu perit. Harga tersebut naik turun tergantung situasi. [[email protected]]

error: Content is protected !!