Stok Beras Menipis Warga Giritontro Mulai Makan Thiwul

0 62
Tiningsih Kasi Ketersediaan dan Diversifikasi Pangan Kabupaten Wonogiri | Foto Bagus

infowonogiri.com – GIRITONTRO – Akibat musik kemarau yang memanjang, berdampak pada stok beras di wilayah rawan kekeringan menipis. Karena itu pihak Kantor Ketahanan Pangan (KKP) Kabupaten Wonogiri akan melakukan survei Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) pada bulan Oktober mendatang.

Kepala Desa Ngargoharjo, Kecamatan Giritontro, Suhono mengatakan di desanya ada sekitar 673 KK. Sebanyak 129 KK diantaranya tergolong keluarga miskin. “KK miskin itu kebanyakan stok berasnya sudah menipis. Pada akhir Oktober biasanya sudah tidak punya lagi. Itu hampir setiap tahun terjadi. Mereka hanya mengandalkan jatah raskin,” ujarnya.

Soslusinya, sudah mulai banyak penduduk di Kecamatan Giritontro yang mulai mengkonsumsi gaplek. Namun gaplek tidak bertahan lama, jika disimpan terlalu lama kualitasnya akan rusak/jelek. Ada juga yang mulai mengkonsumsi nasi tiwul. “Dari dulu sebenarnya sudah terbiasa makan tiwul,” katanya, Kamis (27/9).

Terpisah, Kepala KKP, Safuan didampingi Kasi Ketersediaan dan Diversifikasi Pangan, Tiningsih mengatakan di Wonogiri ada lima kecamatan yang masuk rentan kerawanan pangan. Yakni Kecamatan Giritontro, Paranggupito, Pracimantoro, Manyaran, dan Kismantoro.

“Tiga kecamatan termasuk rentan air bersih dan banyak KK miskin. Untuk Manyaran dan Kismantoro karena banyak KK miskin saja. Kami akan survei SKPG dulu Oktober nanti, sebelum mengirimkan beras. Namun usulan permintaan bantuan beras tetap dari kecamatan dan setelah disetujui baru dikirim,” jelasnya.

Sebelum Lebaran lalu KKP telah mengirim 4,3 ton beras ke Petirsari Pracimantoro, dan Girikikis, Giriwoyo. “Saat ini masih ada stok cadangan beras total sekitar 110,8 ton. Sekitar 8,5 ton dari APBD. Dan 2,3 ton dari Balai Pengembangan Cadangan Pangan (BPCP) Magelang, dan 100 ton dari cadangan beras kabupaten di Bulog,” lanjutnya.

Tiningsih mengatakan beras cadangan kabupaten di bulog tahun 2011 lalu keluar sekitar 70 ton karena permintaan dari kecamatan. Juga akibat kemarau panjang. “Untuk tahun ini belum tahu. Sampai saat ini belum ada permintaan dari kecamatan-kecamatan,” lanjut dia.

Safuan menambahkan stok beras di Bulog hanya digunakan untuk kepentingan mendesak. Selain itu, juga masih terbantu dengan adanya raskin. “Untuk tiwul masih ada yang mengonsumsi karena memang secara kultur lama menjadi bahan pangan di Wonogiri,” kata dia.[[email protected]]

error: Content is protected !!