Marjuni , Profile Ketua Gapoktan dan Asgapro Jateng

0 37
Marjuni Profile Ketua Gapoktan dan Asgapro Jateng | Foto Bagus

infowonogiri.com – SELOGIRI – Pipinya sudah kempot. Saat berbicara, beberapa giginya terlihat ompong. Usianya, memang sudah tua. Umur memang sudah mencapai 80 tahun. Dialah Marjuni. Warga Desa Nambangan 1/1 Kecamatan Selogiri

Marjuni adalah Ketua Gapoktan “Daya Guna Kaya” Selogiri. Marjuni juga sebagai Ketua Asosiasi Gapoktan Provinsi Jawa Tengah (ASGAPRO). Baik sebagai Ketua Gapoktan Daya Guna Kaya maupun Ketua Asgapro, tugasnya mencari informasi harga padi.

“Saya ini sudah tua, tapi masih dipercaya sebagai Ketua Gapoktan Daya Guna Kaya. Di Jawa Tengah juga dipercaya sebagai ketua Asgapro,” katanya saat ditemui di halaman kantor Daya Guna Kaya usai menyambut kedatangan Dirjen Kementan, akhir pekan lalu.

Marjuni menjelaskan, pekerjaan mencari informasi ternyata tidak mudah. Setelah mendapatkanpun, ternyata informasi itu amanah. Amanah itu harus disampaikan dengan benar, jangan sampai pesan disampaikan dengan tidak benar.

Jika pesan disampaikan tidak benar maka akan mengakibatkan terjadi miskomunikasi, ketidakpahaman dan bahkan bisa terjadi “distorsi” informasi. Karena itu, Marjuni berusaha selalu menyampaikan informasi dengan baik dan benar.

Sebagai tokoh petani informasi yang dicari Marjuni adalah, harga padi, harga beras, harga hasil bumi. Tidak hanya di Wonogiri tetapi di seluruh bumi pertiwi bahkan sampai ke negeri tetangga, seperti ke Malaysia Berunai Darusalam, Kamboja, Filipina dll.

“Saya sering mencari informasi, di Malaysia punya apa?, orang Malaysia butuh apa? misalnya butuh padi, butuh kunir, butuh jahe lalu kita sampaikan ke anggota Gapoktan. Ini ada pesanan dari Malaysia butuh kunir kering satu ton, dan seterusnya,” kata Marjuni.

Di Kabupaten/Kota, Marjuni juga sering mencari informasi hasil  bumi dari Kabuaoten Cilacap dan Banyumas dan sekitarnya. “Asal harganya tidak merugikan petani kita tawarkan ke petani, kalau merugikan petani, tidak kita tawarkan,” katanya lagi.

Selain itu, Marjuni mengemukakan, bahwa dibentuknya Gapoktan dan Asgapro adalah dalam rangka menjaga stabilitas harga hasil bumi agar tidak dipermainkan tengkulak. Upaya yang dilakukan antara lain, membeli hasil petani saat panen raya.

Saat sedang tidak musim panen, kita bisa menjual ke petani dengan harga murah. Sehingga harga hasil bumi bisa dikendalilkan petani sendiri, bukan oleh orang lain. Sehingga distribusi dan cadagan pangan dapat dikendalikan sendiri.

Gapoktan maupun Asgapro, menurut Marjuni juga pernah mendapat dua kali dana stimulan Rp.150 juta dan Rp.75 juta, dari pemerintah Kabupaten dan Provinsi. Antara lain untuk membeli gabah ke petani pada saat panen raya.

Pada saat paceklik gabah tersebut kembalikan ke petani dengan cara dipinjamkan. kem ke petani 7,5 ton dipinjamkan, kemudian petani wajib mengembalikan pada saat panen raya. Sehingga, dengan pola tersebut, petani merasa tertolong, karena tidak keberatan.

Namun demikian setiap anggota (petani) diwajibkan membayar iuran ke lembaganya. Bagi petani yang memiliki sawah sebau (sekira 100 meter) iuran Rp.200 ribu, bagi yang setengah bahu dimintai iuran Rp.100 ribu, dan seterusnya sampai tersempit Rp.50 ribu.

Dana iuran itu tidak untuk pengurus. Tetapi juga kembali untuk anggota petani. Antara lain baru baru ini membangun saluran irigasi, dan membantu kelaurga petani miskin. “Biar petani senang bersodakoh, itu baik” katanya didampingi anaknya Muhtadi.[[email protected]]

error: Content is protected !!