KSU Ngudi Rukun Mati Suri [1]

0 64
Haru karyawan KSU Ngudi Rukun Purwantoro | Foto Bagus

infowonogiri.com – PURWANTORO – Koperasi Serba Usaha Ngudi Rukun (KSU-NR) Bangsri Purwantoro ini tinggal matinya. Itulah kata kata yang diucapkan oleh Haru (38) karyawan bagian simpan pinjam (SP) KSU-NR ini, , saat ditemui di kantornya di Bansri Purwantoro.

Haru menandaskan, bahwa pengurus yang lain menurutnya kurang peduli terhadap kondisi kesehatan KSU-NR. Hanya dialah yang selama ini “berjuang” untuk menyembuhkan sakit parah yang diderita KSU-NR. Upaya yang dilakukan antara lain, menagih para kreditur macet yang mencapai Rp.200 juta.

Tidak hanya itu, Haru mengaku telah berkorban “menyekolahkan” sertifikat hak milik kelurganya sebagai agunan ke Bank Negara, dan hasilnya untuk membayar nasabah KSU-NR. “Saya sama sekali tidak menikmati hasilnya, saya malah hutang ke Bank Rp.20 juta untuk membayar utang koperasi ke debitur, dan saya sendiri yang mengangsur ke bank sebesar Rp.1.240.000,” katanya.

Meski Haru sebagai karyawan SP, namun dia bekerja serabutan mengurusi kerjaan KSU-NR. Sedangkan pengurus yang lain menurutnya, tidak membantu. “Saya karyawan simpan pinjam, tapi saya sekarang ditugasi untuk mengurusi semuanya,” kata pria asal Dusun Wates Wetan 3/5 Bangsri Purwantoro ini.

Menurut Haru sakit akut yang diderita KSU-NR disebabkan terdapat sebanyak 165 kreditur macet. Kreditur macet tersebut tidak semuanya anggota KSU-NR. Sebagian adalah nasabah (orang luar). Diantaranya para PNS guru/non guru asal Kismantoro dan Purwantoro.

Antara lain kreditur atas nama Parso dan Ny Parso sebesar Rp.20 juta. Selama ini kreditur ini tidak pernah mengangsur, apalagi membayar kewajiban setoran pokok maupun jasanya. Ketika ditagih, kreditur tersebut, tidak pernah membayarnya. Demikian juga kreditur yang lainnya.

Haru, yang sehari hari mengaku bekerja sebagai petani ini, mengatakan sejak Agustus 2011 –sejak ia mulai bekerja di KSU NR- ia tidak pernah merealiasikan transaksi SP. Sebaliknya ia pernah berhasil menagih kreditur macet senilai Rp.10 juta. Uang tersebut telah dibayarkan kepada debitur.

Penyebab sakitnya KSU NR, adalah saldo tabungan di KSU NR belum bisa diklirkan, dikarenakan sejak September 2010 silam, pembukuannya acak acakan. “Di buku kas harian masuk, tetapi tidak dipindahkan ke buku rekening tabungan atau buku induk,” kata Haru lagi. Karena itulah, Haru sejak 20 hari lalu, mulai bekerja mengurutkan pembukuan transaksi sejak 2010-2012 ini. Tujuannya untuk menertibkan saldo rekening KSU NR.

Solusinya, Haru mengaku tidak bisa memberikan solusi, kecuali dengan cara menagih para kreditur macet. Pengurus yang lain, Sukiman (Dewan Pengawas KSU-NR) berpendapat menjual aset KSU-NR. Hasil untuk membayar debitur. Namun Haru, mengaku tidak bisa mengambil keputusan tersebut. “Keputusan menjual aset harus dilakukan rapat bersama secara institusi,” ujar Haru.[bersambung] [[email protected]]

error: Content is protected !!