Dua Ibu Rumah Tangga Diringkus Terkait Psikotropika

0 42
Suyamti disidik Sat Narkoba | Foto Bagus

infowonogiri.com – WONOGIRI – Upaya Kepala Rutan Wonogiri untuk mengawali membongkar jaringan peredaran obat-obatan terlarang di dalam rutan membuahkan hasil manis. Setelah pelaku diserahkan pihak berwajib, Satuan  Narkoba Polres Wonogiri mengembangkannya. Hasilnya dua orang ibu rumah tangga berhasil diringkus.  

Adalah Suyamti alias Titik alias Cemplon (31) seorang ibu rumah tangga yang bekerja sebagai karyawati swasta alamat RT 04 RW 12 Semanggi, Pasar Kliwon Surakarta, dan Sutini alias Yuni (50) seorang ibu rumah tangga alamat Jageran Pasar Legi Banjar Sari Surakarta.

“Keduanya kita tangkap pekan kemarin, atau beberapa hari setelah Dinda ditangkap di Rutan Wonogiri. Keduanya sudah resmi kita tahan sebagai terangka pasal 62 UU tentang Psikotropika,” ujar Kasat Narkoba AKP Susilo Ssos, mewakili Kapolres Wonogiri AKBP Ni Ketut Swastika SIK.

Keduanya, lnjut Susilo telah diperiksa dan mengakui atas keterlibatan dalam jaringan peredaran Psikotropika yang ditemukan di dalam dompet pengunjung Rutan Wonogiri, Dinda Nirwana (17). Dinda adalah adik kandung Eko Apriyanto (26) napi kasus Narkoba. Sedangkan Suyamti adalah istri dari Eko Apriyanto.

Sutini didampingi petugas tahanan | Foto Bagus

Rentetannya, barang tersebut adalah milik Suyamti yang akan dikirimkan kepada suaminya di Rutan Wonogiri Eko Apriyanto. Suyamti mendapatkan barang terlarang dari saudari Sutini. Sutini mendapatkan barang tersebu dari seorang dokter –masih dalam penyelidikan- di sekitar Stadion Manahan Surakarta.

Saat diikonfirmasi infowonogiri.com , baik Suyamti maupun Sutini mengakui semua perbuatannya. “Saya hanya disuruh suami,” kata Suyamti. Sementara, Sutini menyatakan bawha, Eko Apriyanto selama ini memang pelanggannya. Setiap membutuhkan obat obatan tersebut selalu memesan kepada Sutini. “Sudah empat kali ini. Biasanya kita pesan dengan resep, tapi kemarin tidak,” katanya.

Sutini mengaku mendapatkan barang tersebut membeli dari dokter dengan harga Rp.750 ribu. “Biasanya kita hanya membeli, sedikit 20 sampai 30 kamlet, tetapi kemarin kita membeli sampai 70 kamlet. Saya kenal dokter itu karena saya pasiennya, ” ujar Sutini yang memiliki sakit darah tinggi ini. [[email protected]]

error: Content is protected !!