Senang Rangkul Petani Lestarikan Sungai Bengawan Solo

0 47
Suwartono Dirut BUMN Hijau Lestari II | Foto Bagus

infowonogiri.com – WONOGIRI – Banyak orang kehilangan kesibukan setelah purna tugas dari pekarjaan lamanya. Terkadang ada yang kebingungan mencari kesibukan. Tetapi tidak terjadi bagi Suwartono. Setelah pensiun dari Perum Jasa Tirta 1, Suwartono langsung bekerja di badan usaha milik negara (BUMN) Hijau Lestari.

Pekerjaan Suwartono memiliki wilayah yang cukup luas. Yaitu daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo dan DAS Sungai Berantas Jawa Timur. Asal tahu, sungai Bengawan Solo mengalir mulai dari Kecamatan Karantengah di perbatasan Wonogiri dengan Pacitan Jatim, mengalir sampai jauh ke Solo, Ngawi, Lamongan hingga ke Gresik Jatim.
 Pria berambut klimis di usianya yang telah mencapai 59 tahun. Suwartono tetap gigih bekerja. Di BUMN Hijau Lestari II tersebut pria yang tinggal di Kabupaten Sukoharjo itu menjabat sebagai direktur BUMD. Jabatan direktur sudah diembannya selama dua tahun. Pekerjaannya utamanya adalah menanam pohon kayu.
Menaman pohon bertujuan untuk menjaga kelestarian alam dan lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat. Yang namanya pekerjaan menanam pohon, tentu seluruh kegiatan tanam menanam. Mulai dari memilih bibit pohon yang akan ditanam, mencangkul, pasang ajir atau tanda lubang tanam, menanam dan memupuk dan merawatnya sampai tumbuh besar.
Bahkan ia pun mengurusinya sampai panen dan paska panen. Pohon yang ditanam kini berbagai jenis. Antara lain yang sedang ngetren adalah Jati Ambon (Jabon) dan Sengon. Lokasi penanaman di mulai dari hulu sampai di hilir Sungai Bengawan Solo, dan sekitarnya.
Selain menanam pohon jenis kayu kayuan, Suwartono juga menanam sebangsa tanaman semusim seperti empon-empon. Antara lain kunyit, jahe, kencur, kunir dan lain lainnya. Tanaman jenis ini ditanam disela sela pohon kayu kayuan. Biasanya ia bekerja sama merangkul pertani, baik saat menanam di lahan petani maupun milik pemerintah.
Soal pembiayaan penanaman semua ditanggung oleh BUMN Hijau Lestari II dan dari pemerintah. “Saya bekerja sama dengan petani, kelompok petani dan kordinator kelompok. Kami rangkul semua,” kata Suwartono beberapa waktu lalu. Sekali panen, bisa menghasilkan 5-9 ton penenan tanaman semusim itu.
Yang baru saja panen, menurutnya adalah di wilayah Kecamatan Jatipurno. Di wilayah tersebut sistem penanamannya tumpang sari. Tanaman semusim itu ditanam diantara pohon kayu kayuan atau pohon hutan. Meski demikian ternyata cukup menghasilkan petani. Sebab harga empon empot tersebut mudah menjualnya, dan harganya cukup tinggi.
Sistem bagi hasilnya adalah 60 persen untuk petani dan 40 persen untuk BUMN Hijau Lestari II. Hasil panenannya dijual ke pengepul dan atau ke pabrikan. Sehingga dengan demikian, pembedayaan petani terlaksana. Nilai bisnis terpenuhi dan tujuan pelestarian alam utamanya konservasi lingkungan tercapai.
“Membuat hutan itu susah butuh propses panjang. Jadi tolong jangan rusak hutan yah! Berpikirlah seribu kali kalau mau merusak hutan. Yang menanggung kerugian adalah anak cucu kita, kelak,” kata pria yang dulu sebagai Deputi Perum Jasa Tirta antara lain mengerjakan proyek Bengawan Solo.[[email protected]]

error: Content is protected !!