Menjadi Profesi Guru Kelainan Raih Prestasi Jateng

0 52
Supardjo SPd Kasek SLB BC YMS Ngadirojo | Foto Bagus

infowonogiri.com – WONOGIRI – Dinas Pendidikan Kabupaten Wonogiri mempunyai beberapa guru yang berprestasi di tingkat Provinsi Jawa Tengah (Jateng) dan bahkan ada yang berprestasi di tingkat Nasional. Salah satu guru yang berprestasi di tingkat Jateng adalah Supardjo Spd (53) warga Joho Lor RT 02 RW 05 Kelurahan Giriwono Wonogiri.

Supardjo adalah guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) BC Yayasan Mulatsariro (YMS) Wonogiri di Ngadirojo. Selain sebagai guru, alumni IKIP Bandung itu juga mendapatkan tugas tambahan sebagai Kepala Sekolah (Kasek) di SLB setempat. Suami dari guru SD, Tuti Asih ini bertugas menjadi guru telah berjalan puluhan tahun.

Tahun ini ia mendapatkan prestasi sebagai Juara I Kasek Terbaik bidang Pendidikan Husus Tingkat Provinsi Jateng 2012. Ivent tersebut digelar oleh Dinas Pendidikan Provoinsi. Saat ini ayah dua anak ini didaftarkan maju ke tingkat Nasional yang akan digelar September 2012 di Jakarta. Temanya adalah Pedoman Pendidikan Husus Berdedikasi Tingkat Nasional 2012.

Saat ini Supardjo tengah sibuk memersiapkan legalisasi kelengkapan. Dia akan bersaing bersaing dengan 33 Kasek perwakilan dari 33 Provinsi se Indonesia. Supardjo berhasil menyingkirkan 8 Kasek dari 6 Kabupaten/Kota di Jateng.

Supardjo terpilih karena dinilai sebagai “Best Practice Managemen Partisipan Alternatif” atau pengembangan pendidikan husus di SLB yang dinyatakan sebagai bukti. Disamping itu, Supardjo juga berhasil mengantarkan anak didiknya, Nandi (tuna rungu) meraih juara harapan II seni pantomim Nasional, dan Arsiska Nurpematasari sebagai juara 10 Provinsi Jateng.

“Tugas Kepala Sekolah adalah beperan sebagai fungsi manejemen dan pengendalian. Tugas Kasek antara lain sebagai pengatur kebijakan monitoring, efaluasi dan pelaporan.

Sementara, SLB BC YMS Ngadirojo memiliki sebanyak 92 murid. Rinciannya siswa tuna rungu ada 38 anak, tuna grahita ada 50 anak dan autis ada tiga 4 anak. Tuna rungu wicara adalah siswa yang tidak mampu mendengar, maka menjadi tidak bisa bicara alias bisu.

Sedangkan siswa autis adalah anak yang mengalami gangguan konsentrasi. Sedangkan siswa tuna grahita adalah anak yan memiliki kemampuan dibawah rata rata. Standarnya normal adalah 90-110. Sedangkan abnormal dibawah 90.

“Menghadapi anak kelainan harus sabar,” katanya. Ia menyontohkan mengajari siswa tuna rungu adalah mengajarkan suku kata. Orang bisa bicara karena bisa menirukan. Ilmu mengajarkan bicara namanya bina wicara.

Untuk menyukseskan wajib belajar SLB, ia meminta dukungan dari para pendidik, masyarakat, orang tua, pemerintah dan dunia usaha dan industri (dudin). Nama istri Tuti Asih. Anak David Purnomo anggota Satlantas Polres Wonogiri dan Eviani Damastuti Spd guru SLB.[[email protected]]

 

error: Content is protected !!