Oase di Tanah Kering

0 113

infowonogiri.com-WONOGIRI- Pertanian di Pracimantoro seperti oase di tengah-tengah keringnya lahan pertaniannya. Saat musim hujan tiba hamparan sawah menghijau dan saat kemarau tiba jagung, ketela tumbuh subur di atasnya. Inilah salah satu Kebaikan yang Tuhan berikan pada kehidupan masyarakat Pracimantoro.

Petani sudah lama menggunakan sistem pergantian tanaman ini, untuk menyiasati ketidak adanya sumber mata air. Petani mulai menyemai bibit padi di petak-petak sawah mereka ketika musim penghujan tiba, proses dari penyemaian sampai dengan panen berlangsung kurang lebih padi beruumur 110-115 hari. Proses ini bukan berarti tidak mengalami kendala seperti yang diungkapkan oleh Katinem salah seorang petani dari Pracimantoro “Biasanya kendala kami adalah adanya hama baik itu jamur, burung emprit, penggerek batang padi, walang sangit, wereng dan belalang dan tikus. Pupuk yang biasa kami gunakan adalah Urea 200 Kg, SP36 200 Kg, dan KCL 100 Kg.Selain itu untuk mengatasi hama seperti  penggerek batang padi, walang sangit, wereng dan belalang kami melakukan penyemprotan dengan pestisida.”

Untuk mengakali kenaikan harga pupuk petani di Pracimantoro menyiasatinya dengan penggunaan pupuk kandang. Ketika musim kemarau tiba hamparan padi yang menguning, digantikan dengan rimbunnya jagung dan kadang dibuat tumpangsari dengan ketela pohon. Selain jagung tersebut diambil hasil bijinya, petani di Pracimantoro juga banyak menjualnya sebagai pakan ternak. Cara ini juga tak kalah menguntungkanmya karena ketika kemarau tiba para peternak sapi di Pracimantoro lebih suka membeli pakan dari pohon jagung ketimbang membeli konsentrat yang mahal harganya. Per ikat pohon jagung dijual dari 5ribu sampai dengan 10ribu, harga ini bisa naik di saat musim kemarau di mana rumput untuk ternak berkurang  jumlahnya. Harga per ikatnya bisa mencapai 20 ribu. Ketela pohon sendiri dimanfaatkan sebagai bahan pembuat “gaplek”, meskipun saat ini jarang ada yang mengkonsumsi “gaplek” tapi makanan pokok berupa singkong kering yang ditepungkan ini masih banyak dikonsumsi sebagai makanan pokok pengganti nasi bagi masyarakat kurang mampu.

Sementara sebagian penduduknya bertani, masyarakat pracimantoro juga tak sedikit yang berprofesi sebagai pedagang dan pengusaha baik mebel,ternak ataupun ukir kayu(bubut) seperti yang terletak di Desa Sumberalit, Sedayu, Pracimantoro milik Bapak Wasino(50th), yang selain sebagai petani juga memiliki usaha sampingan berupa jasa bubut kayu untuk kursi, tempat tidur dan mebel lainnya. Selain itu tak jarang yang memilih menjadi sopir ataupun tukang ojek, meskipun dalam kenyataannya banyak tukang ojek yang sudah mulai alih profesi karena makin banyaknya orang yang memiliki kendaraan pribadi. Banyak tukang ojek yang mengeluhkan penumpang sepi, padahal motor mereka hanya motor sewaan, inilah problema di tengah semakin banyaknya kebutuhan hidup yang harus dicukupi.

Semoga Pemerintah Kabupaten Wonogiri mampu memberikan jalan keluar yang baik bagi masyarakat kurang mampu seperti salah satu tukang ojek, Misdi(50th) Warga Sumberalit juga, yang mengaku menyewa motor dengan setoran per hari 15ribu, dengan kondisi penumpang yang sepi setoran sekecil itu pun sangat membebani belum lagi kebutuhan rumah tangga yang harus dicukupi, tentunya jika Pemerintah Kabupaten Wonogiri mampu membukakan lapangan pekerjaan atau modal usaha bagi masyarakat kurang mampu, banyak pengangguran bisa memperoleh pekerjaan, dan kedepannya hal ini akan memajukan daerah Wonogiri juga. Terlepas dari berbagai profesi yang dimiliki masyarakat Pracimantoro, semoga Kecamatan ini menjadi Kecamatan yang lebih maju dan tetap mempertahankan keramahannya di masa mendatang.([email protected])

error: Content is protected !!