Jangan Ada Lagi Sapi Makan Jati Pedet Makan Kambing

0 146

infowonogiri.com-WONOGIRI-Di wilayah Kabupaten Wonogiri sisi selatan, seperti di Kecamatan Pracimantoro, Giritontro, Paranggupito dan beberapa kecamatan lain masih saja terjadi ada sapi makan jati, ada pedet makan kambing.

Itu terjadi ketika musim kemarau tiba. Sebab pada saat itu bahan makanan hewan ternak sapi maupun kambing seperti rerumputan dan dedaunan langka karena kekeringan. Apa yang dilakukan warga demi bisa memberi makan raja kaya piaraannya.

Antara lain menjual kayu jati atau menjual kambing untuk membeli rerumputan seperti kolonjono, rumput gajah, pohon jagung dan lain. Sebab pada musim kemarau harga rerumputan bisa mencapai Rp.2500/perikat pada musim penghujan saat ini dan mencapai Rp.4500 /ikat rumput kolonjono atau pohon jagung. Satu ekor sapi dewasa paling tidak membutuhkan lima ikat rumput kolonjono.

Hal itu terungkap dalam dialog antara anggota kepompok petani di Dusun Gunungan Desa Wonodadi Kecamatan Pracimantoro, Minggu (22/4), dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Pracimantoro dan anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah Subandi PR.

Acara itu juga dihadiri oleh pengurus Aisiyah, Pemuda Muhammdiyah, Nasiatul Aisiyah yang mengadakan bhakti sosial di Dusun setempat, pasca bencana alam banjir akibat luweng di Dusun setempat tersumbat.

Subandi menjelaskan, bawha untuk menangani masalah kelangkaan bahan pakan hewan ternak dibutuhkan petani yang telaten dan terampil, yaitu petani yang mampu memproduksi limbah pertanian menjadi bahan pakan ternak organik.

Antara lain limbah kulit kacang, kedelai, jagung, kulit singkong, batang pohon singkong, klobot (daun jagung), batang pohon jagung, janggel (batang jagung), pohon kacang, pohon kedelai, bahkan dedaunan jati kering dan pepohonan lainpun bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak setelah diolah melalui proses fermentasi sebagai pakan alternatif.

Saat itu juga digelar pelatihan dan praktek pembuatan pupuk organik teknologi sederhana biosym, pakan ternak, pakan lele organik,. Usai pelatihan juga diserahkan bantuan 15 ekor domba. “Intinya kami menawarkan agar petani tidak angon (mengembala) tidak ngarit (merumput) lagi. Kita mencoba memberikan kail, bukan ikan,” katanya.

Dengan menguasai keteranpilan memproduksi pakan ternak organik seorang petani cukup waktu 4 jam untuk menyediakan pakan ternak sebanyak 20 ekor dewasa selama 20 hari tanpa merumput tanpa menggembala. Satu ekor kambing dibutuhkan 8 ons hingga 1 kg pakan organik, sedangkan seekor sapi dibutuhkan 2,5 % kali berat badan sapi. [[email protected]]

error: Content is protected !!