Penemu Tehnik Pengembangan Jahe Gajah Tutup Usia

0 50
infowonogiri.com-KISMANTORO-Penemu teknik pengembangan jahe gajah tutup usia, Jumat (24/2) pada pukul 14:00 WIB di Balai Kesehatan Rawat Inap Gudang Kapuk Purwantoro. Satiman meninggal pada usian 71 tahun. Satiman meninggalkan 1 istri bernama Tukinem (58), empat anak dan 6 cucu.

Satiman dikebumikan di pemakaman umum Dusun Ngandong Desa Pucung Kecamatan Kismantoro, Jumat (24/2) kemarin. Berikut sepenggal kisah tentang (Alm) Satiman semasa hidupnya. Hampir seluruh hidupnya didedikasikan untuk masyarakat dan pertanian utamanya rimpang jahe. Sejak remaja, meski cah kampung, tapi ia tidak berjiwa ndeso. Almarhum walau hanya berpendidikan formal setingkat sekolah dasar (SD), saat itu SR, ia ingin menjadi  manusia yang berguna bagi masyarakat sekitarnya.

Di awali membentuk kelompok pemuda peduli penghijauan dan hutan di Dusun Ngandong Desa Pucung Kecamatan Kismantoro. Asal tahu secara geografis, Desa tersebut terletak di lereng pegunungan perbatasan langsung dengan Kabupaten Pacitan Jawa Timur. Menginjak dewasa, beliau membaktikan diri anggota sebagai HANSIP (PertahananSipil) Desa. Tugasnya saat itu menjadi kurir surat (pelayangan) dari dan ke kantor Kecamatan  Kismantoro hampir saban Selasa dan Jum’at, lalu mengurus Koperasi. Selain itu, Satiman juga berhasil mempelopori listrik masuk desa. Semua itu praktis memenuhi agenda Satiman sepanjang hari. Bagaimana tidak? Setiap ada masalah di Desanya, jam berapapun tampa mengenal hari libur atau Minggu, pintu rumahnya selalu terbuka untuk melayani masyarakat.

Almarhum Satiman adalah orang yang rajin, ulet dan cerdas di dunia pertanian. Peninggalan yang masih membekas dan diterapkan di banyak tempat saat ini adalah, cara budi daya jahe gajah agar menjadi jahe yang berkualitas, dari tekhnik pengolahan tanah,penanaman, pemupukan, perawatan hingga masa panen yang tepat, semuanya diteliti dandiperhatikan hingga menemukan formula yang tepat menjadi jahe berkualitas. Atas kesuksesan dalam pengembangan dan budidaya jahe gajah tersebut, Provinsi Jawa Tengah (Jateng) sering mengundangnya pelatihan di beberapa Kabupaten/Kota se Jateng. Seperti di Karanganyar, Solo, Semarang hingga Wonosobo.

Pada hari terakhir sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, tidak berpesan atau pertanda jika hari itu adalah hari terakhirnya. Sebelum meninggal, Satiman masih menyempatkan diri macul dan dangir bekas tanaman jagung di pekarangannya. Siang hari ia pulang. Sampai di rumah, duduk sesaat lalu bergegas ke kamar mandi. Di kamar mandi, beliau terjatuh. Kepala membentur dinding kamar mandi sehingga  mengakibatkan pendarahan hingga tak sadarkan diri. Keluarganya berteriak meminta tolong melarikannya ke rumah sakit. Pak Hansip dan Bapaknya jahe gajah Kismantoro itu pergi  untuk selamanya di UGD Rawat Inap Gudang Kapuk Purwantoro.(redaksi)

error: Content is protected !!