Sepeda Motor Pembunuh Masal Nomor Satu Di Jalan Raya

0 41

infowonogiri.com-WONOGIRI-Setiap hari di Wonogiri terjadi lebih dari satu peristiwa kecelakaan lalulintas. Setiap bulan rata-rata lebih dari 30 lakalantas. Paling banyak lakalantas melibatkan sepeda motor/ roda dua (R2). Korbannya meninggal paling banyak juga pengendara motor.

Lihat saja data dari Unit Laka Satlantas Polres Wonogiri, dalam setahun, sepanjang tahun 2011 terjadi kecelakaan sebanyak 475 kejadian. Sebanyak 66 korban meninggal dunia (MD) dan luka berat (LB) mencapai 27 korban sedangkan luka ringan (LR) ada 566 korban.

Dari hasil olah tempat kejadian perkara, kecelakaan terjadi pada situasi jalan yang lurus, yaitu sebanyak 403 kejadian. Sebagai perbandingan kecelakaan di tikungan hanya ada 84 kejadian, menanjak (43) jalan menurun 16 kejadian, silang (12). “itu artinya kebut-kebutan,” kata Kasatlantas AKP Joeharno.

Dilihat dari jumlah kendaraan yang terlibat lakalantas adalah sepeda motor (R2) yaitu sebanyak 738, mobil station (70 unit), truk (52), pick up (45), sedan (42) dan sepeda pancal (8).

Jumlah status korban yang terlibat lakalantas paling banyak adalah wirasawasta, yaitu 446 korban dan 642 pelaku. Status mahasiswa dan pelajar menduduki rangking ke dua dengan jumlah 199 orang korban dan 208 orang pelaku.

Kapolres Wonogiri AKBP Ni Ketut Swastika,  AKP Joeharno menyatakan sangat terkejut ketika datang bertugas di Wonogiri. Sebagai perbandingan, di Kota Pekalongan tempat ia bertugas sebagai Kasatlantas sebelumnya, hanya ada 10 kejadian laka dalam sebulan. “Itu sudah ngoyo, top,” katanya.

Menyikapi banyaknya lakalantas di Wonogiri, Joeharno menegaskan, bahwa sepeda motor seungguhnya bukan alat transportasi. Namun apa yang terjadi di Indonesia, semua berlomba-lomba membeli sepeda motor. Ke sawah pakai motor, ke sekolah naik motor, ngarit saja bawa motor.

Mudik dari Jakarta mengendarai sepeda motor. Memang motor ini kendaraan yang irit dan murah. Namun sesungguhnya menurut Joeharno sepeda motor adalah alat pembunuh masal di Indonesia, dan bukan sebagai alat transportasi.

Inilah kesalahan pemerintah Indonesia, tidak mampu menyediakan alat transportasi yang aman dan nyaman, sehingga orang lebih memilih sepeda motor. “Alasan pemerintah, karena faktor ekonomi, sehingga sepeda motor dijadikan alat transportasi,” katanya.

Padahal di negara-negara maju, sepeda motor tidak lagi sebagai alat transportasi, melainkan hanya sebagai hoby. Sebaliknya di negara berkembang menjamur, siapa saja, kemanapun naik motor. Polisi juga tidak bisa membantasi maraknya motor. “Itu pernah diseminarkan,” katanya.

Menghitung jumlah pertumbuhan sepeda motor di Wonogiri perbulan rata-rata ada 1000 motor baru. Itu belum termasuk sepeda motor second, karena tidak bisa diawasi. Jadi dalam setahun paling tidak ada 12 ribu motor baru.

Namun rame dan padatnya arus lalulintas kendaraan bukan menjadi faktor utama penyebab kecelakaan. Akan tetapi faktor lain, pengendara dan sarana jalan. “Kuncinya tertib lalulintas dan kehati-hatian pengendara,” kata Joeharno.

Ditambahkan, sebesar 90 % prosentase laka disebabkan karena pelanggaran pengendara. Contoh marka jalan, melebihi batas kecepatan, merubah konstruksi pabrikan kendaraan, melawan arus, melanggar zebra cros dan trafic light (bangjo).

“Wonogiri belum termasuk padat kendaraan, tapi banyak lakalantas, karena pengendaranya. Jalan menanjak kencang, jalan menurun kencang, apalagi jalan lurus,” katanya. Dan lagi, faktor jalan, di Wonogiri hampir seluruh jalur berpapasan/berhadapan. hanya ada sedikit satu jalur satu arah.

Kondisi jalan tersebut menyebabkan potensi kecelakaan semakin tinggi. Berbeda dengan kabupaten kota yang lainnya. Mayoritas jalan-jalan satu jalur satu jalan, atau tidak berpapasan. Karena itulah pengendara motor dihimbau untuk tertib berkendara. ([email protected])

error: Content is protected !!