Limbah Pertambangan Pembunuh Masal Secara Perlahan

1 43

infowonogiri.com-WONOGIRI- Pertambangan “emas rakyat” di Desa Jendi Kecamatan Selogiri dinilai berpotensi menimbulkan pencemaran air tanah di wilayah setempat. Selain itu, banyaknya galian-galian yang ditinggalkan juga rawan menimbulkan bahaya longsor saat musim penghujan yang diperkirakan tidak lama lagi tiba. Karena itu para penambang dan lingkungan masyarakat setempat dihimbau untuk lebih waspada dan berhati hati.

Peringatan itu dikemukakan oleh Kepala Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Wonogiri, Sri Wahyu Widayatto didampingi Kasi Pengendalian Dampak Lingkungan, Wiwik P. Ekowati, akhir pekan ini  di kantornya. “Limbah merkuri dan tailing (ampas sisa penambangan emas) berpotensi mencemari air tanah di sekitaranya. Limbah tesebut sangat berbahaya jika dibuang  sembarangan,” katanya.
Dijelaskan, tailing adalah materi padat sisa penambangan emas yang berupa tanah, batu pasir, lumpur dan materi padat lainnya sisa dari pendulangan emas. Materi pada tersebut masih terdapat kandungan logam berat. “Limbah tersebut mengandung logam merkuri, perak, tembaga, dan emas yang tersisa. Limbah itu sangat mengkhawatirkan dan membahayakan jika dibuang sembarangan. Anehnya malah materi itu digunakan sebagai bahan penguruk,” katanya.
Resikonya, jika limbah padat itu berada dalam tanah, kemudian mencemari air dan dikonsumsi oleh masyarakat maka perlahan-lahan akan terjadi pembunuhan masal tanpa kesengajaan. Sebab logam berat dan limbah merkuri meracuni dari dalam tubuh manusia. Wahyu memerkirakan jumlah tailing di Desa Jendi Selogiri sangat besar dan telah terakumulasi selama bertahun-tahun.
Pencemaran merkuri dalam air sumur penduduk meningkat dari tahun ke tahun. Hasil penelitian Balai Laboratorium Kesehatan Yogyakarta tahun 2008, menyebutkan kandungan merkuri dalam sumur berkisar 0,0001 ppm. Angka itu masih di bawah baku mutu yang ditetapkan, yaitu 0,001 ppm. Namun penelitian Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) tahun 2010, angkanya meningkat hingga 0,001 ppm. Itu menunjukkan kandungan merkuri dalam air sudah menyentuh ambang baku mutunya.
Solusinya, tidak direkomendasikan mengkonsumsi air sumur di desa setempat. Merkuri dan limbah emas yang terkonsumsi dapat merusak jaringan pembuluh darah dan pencernaan. Perlu juga dirancang pengolahan limbah komunal. Setiap pendulangan emas dibangun bak penangkapan lumpur dan bak pengendapan. Lalu difiltrasi dengan karbon aktif dan soda lumpur. Kemudian limbah diambil secara berkala.
Upaya lain perlu pengolahan limbah. Kini ada pihak ketiga yang mengajukan pengolahan limbah penambang emas rakyat. Pihak ketiga tersebut menengarai di dalam taliling masih terkandung logam yang bermanfaat. Logam dalam tailing tersebut akan diambil lalu limbahnya digunakan sebagai pencampur batako. ([email protected])
error: Content is protected !!