Kirab Pusaka Mangkunegaran Diiringi Berbagai Atraksi Seni

3 113

WONOGIRI-Sebanyak 8 pusaka peninggalan Mangkunegaran yang tersimpan di Kabupaten Wonogiri dikirab dan dijamas, Minggu (19/12). Kedelapan pusaka itu adalah sebuah keris, 6 tombak dan sepasang gong. Ada Keris Korowelang, Tombak Kyai Bolodewa, Tombak Kyai Totok, Tombak Semar Tindandu, Tombak Kyai Limpung, Tombak Kyai Alap Alap, dan Gong Ki Mendung Ekodaya Wilaga.
Prosesi kirab dimulai pukul 08.00 dari halaman pendopo rumah dinas Bupati. Pasukan pembawa pusaka berada di garis terdepan menuju ke panggung kerhormatan di halaman Pasar Kota Wonogiri. Pembukaan disampaikan oleh Ketua Panitia Kirab Pusaka Plt. Sekda Kabupaten Wonogiri Soetanto Djosowijatmo, lalu disambut oleh Bupati Danar Rahmanto.

Sambutan disampaikan dengan berbahasa jawa, kromohinggil. Intinya bahwa Kirab Pusaka ini untuk menjaga dan menghidupkan tradisi jawa agar tetap lestari yang digelar menyongsong tahun Sura. Usai sambutan Bupati Wonogiri memberangkatkan pasukan kirab menuju ke lokawisata Sendang Asri Wadug Gajah Mungkur Wonogiri.

Menyusul pengusung pusaka di belakangnya ada banyak pasukan yang turut memeriahkannya.Antara lain ada komunitas mobil VW, beberapa grup drumband pelajar, Kethek Ogling, Seni Reog dan Dadak Mereak, Pasukan Jogo Tirto. Aneka kesenian tari khas Wonogiri turut pula memeriahkannya. Seperti tari kupu-kupu, tari topeng, tari perang, tari lidi, tari bulu. Parade bathik dari berbagai daerah turut hadir menyemarakkan ajang tahuhan menyambut bulan Sura ini.

Tampak Bupati Wonogiri Danar Rahmanto di podium kehormatan. Disana Bupati didampingi wakil Bupati Yuli Handoko, Ketua DPRD Wonogiri pejabat Muspida Kabupaten Wonogiri, sejumlah anggota DPRD Wonogiri berserta istri dan sejumlah tamu undangan. Bupati dan para pejabat tampak tersenyum menyaksikan kreasi anak anak negeri, sesekali mengacungkan ibu jarinya dan melambaikan tangan kanannya.

Usai berekspresi di depan para pejabat di depan panggung kehormatan, pasukan pembawa pusaka Mangkunegaran, melanjutkan perjalanan menuju ke Obyek Wisata Sendang Asri Wadug Gajah Mungkur dengan menumpang berbagai kendaraan yang telah disiapkan panitia dan sponsor. Disanalah dilanjutkan prosesi jamasan pusaka Mangkunegaran. Bersamaan jamasan pusaka, juga digelar ruwatan masal.


Ribuan rakyat Wonogiri keluar rumah memadati Jl Kabupaten sekitar alun alun Giri Krida Bhakti Wonogiri, Jl Perotokol, Jl Jendral Sudirman sampai Lapangan Sukorejo sabagi finis konvoi. “Saya senang mas, kebetulan mulai hari ini libur sekolah, ada hiburan kirab pusaka dan aneka kesenian,” ujar Citra Cita Cinta Malihah Hatta dan Permadani Auliya Hatta warga Donoharjo Wonogiri.

Ketua Pelaksana Kirab Pusaka yang juga Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga, Bambang Haryadi mengemukakan, kegiatan kirab tahun ini memang berbeda dengan tahun sebelumnya. Kali ini lebih memetingkan keterlibatan masyarakat, bukan kelompok seni budaya tertentu. Pemerintah hanya menfasilitasi dan menyelenggarakannya.
“Even kali ini lebih menonjolkan kebudayaan daerah, serta untuk menggiatkan pontensi dan kreatifitas daerah, tetapi juga mendatangkan kebudayaan kabupaten/kota laninya di Subosukowonosraten dan Solo Raya. Sedangkan yang pusaka yang dijamas di Wadug Gajah Mungkur ada delapan dari enam jenis pusaka,” ujar Haryadi.


Sementara, proses jamasan dimaksudkan adalah bertujuan untuk membersihkan senjata atau pusaka Mangkunegaran. Karena pusaka tersebut mempunyai nilai sejarah yang tinggi. Pusaka tersebut dijamas menggunakan air yang dicampur dengan aneka bunga dan jeruk nipis. Pusaka tersebut diolesi air campuran dan digosok menggunakan serabut kelapa dan sikat. Sedangkan ritual ruwatan bertujuan penyucian jiwa agar selamat dari gondaan makluk jahat.

Abdi Dalem Kersowarastran Mangkunegaran, Mas Ngabei Riyadi Dwi Putranto mengatakan ritual jamasan pusaka dan ruwatan, “Ruwatan dan jamasan ini diartikan sebagai bentuk penyician benda pusaka yang merupakan peninggalan sejarah Raden Mas Said, yang waktu itu digunakan untuk memimpin Keraton dan membantu berjuang. Ddidalam memang ada unsure megik. Karena itu kita selalu merawat agar selalu terjaga,” katanya. (bsr)

error: Content is protected !!