Kepercayaan Masyarakat Kepada Pemerintah Giriwoyo Mulai Luntur

1 127

WONOGIRI-Belum terlaksananya proyek tower penangkap siaran televise Stasiun Bumi Kecil (SBK) di Kecamatan Giriwoyo berdampak pada tingkat kepercayaan masyarakat kepada pemerintah mulai berkurang. Indikasinya, kini sebagian warga menolak ditariki iuran untuk pembangunan saranan umum. Seperti yang terjadi di Pemerintahan Desa Tawangharjo Kecamatan Giriwoyo.

Seperti dikemukakan oleh Sriyanto warga RT 01 RW 08 Desa setempat, Rabu (22/12). “Implikasi dari tidak terlaksananya pembangunan SBK, trus (kepercayaan) masyarakat terhadap pemerintah menurun. Dulu ditariki iuran untuk SBK tapi belum ada bukti ujudnya, saat ditariki iuran rame rame menolak,” ujar Sriyanto yang tidak lain adalah adik kandung Kepala Desa Tawangharjo, Triyatmoko.

Dijelaskan, Sriyanto, pemerintah Desa Tawangharjo merencanakan pembangunan jembatan sungai Tawangharjo, pembangunan dianggarkan dari swadaya masyarakat. Setiap warga dimintai iuran minimal Rp.30 ribu, tetapi warga banyak yang tidak berkenan membayar. Mereka beralasan iuran proyek pembangunan SBK tidak terlaksana. Padahal menurut Sriyanto pembangunan jembatan lebih penting dari para urusan nonton tv.

Sriyanto menjelaskan, sebagai warga Giriwoyo, dia termasuk orang yang turut serta membayar iuran Rp.7 ribu untuk pembangunan SBK. Saat itu, pertengahan 2010 lalu penarikan iuran dilakukan oleh perankat RT, dan sebagian di wilayah lain penarikan iuran dilakukan oleh kepala lingkungan atau kepala dusun lalu diserahkan kepada pemerintahan diatasnya. Bukti pembayaran saat itupun tidak ada, kalaupun ada Sriyanto menduga pembukuan ala kampong, ala kadarnya.

Sriyanto menduga prosedur penyetoran uang itu dari pemerintah terendah (Rukun Tetangga) sampai ke tingkat Pemerintahan Kecamatan. Namun Sriyanto mengaku tidak tahu dimana posisi uang iuran masyarakat se Giriwoyo yang dia perkirakan telah mencapai 70 persen dari seluruh penduduk Kecamatan Giriwoyo yang mencapai 16 ribu KK.

Kini Sriyanto dan warga lainnya hanya ingin mengetahui, dimana uang iuran warga yang diperkirakan telah mencapai Rp.67 jutaan itu. Apakah uang itu disimpan di Desa, di Kecamatan, di Panitia ataukah ada di pemborong proyek. “Kami dan saya yakin banyak masyarakat yang bertanya Tanya, dimana uang itu? Kalau memang tidak jadi dilaksanakan, tolong sosialisasikan apa alasannya? Lalu pertanggungjawabanya bagaimana. Saya kira ini mirip permbohongan public,” tandas Sriyanto.

Terpisah Kepala Desa Tawangharjo Triyatmoko membenarkan apa yang dikemukakan adiknya itu.

Sekedar tahu, Pemerintah Kecamatan Giriwoyo merencanakan pembangunan SBK menjelang Piala Dunia Juli 2010 lalu. Proyek SBK menarik iuran Kepala Keluarga (KK) Rp.7 ribu. Namun hingga kini proyek belum terlaksana. Proyek itu melibatkan Pemerintah Desa dan Kecamatan. Warga Giriwoyo yang telah membayar iuran ada 9.677 KK, dikalikan Rp.7 ribu jumlahnya Rp.67.739.000,-. Belum termasuk iuran 16 Kepala Desa Rp.1 Juta, iuran rumah/warung makan/tempat usaha dan sekolah. (bsr)

error: Content is protected !!