Catatan Anang Gusdur Dalam Kasus Mbah Jinem Untuk Pejabat

0 191

INFOWONOGIRI.COM-KOTA-Mbah Jinem (73th) penderita Kanker kulit Selasa (6/6/17) akhirnya meninggal dunia. Jenazah telah dimakamkan pukul 11.00 WIB.

Berita penderitaannya begitu viral. Menyita perhatian publik. Membuat sebagian pejabat Kecamatan dan Kabupaten direpotan. Tak ayal mencuat dukungan moral dan aksi solidaritas dari berbagai kalangan. Pengumpulan donasi terus mengalir sampai detik-detik jenasahnya dikebumikan.

Derita mBah Jinem sepanjang tahu sepi perhatian. Tetapi di hari-hari terakhir hingga detik-detik terakhir ajalnya hingga pemakamanya dihadiri hampir ribuan orang, diantaranya pejabat teras lingkungan kabupaten.

Bahkan keranda diusung anggota TNI Koramil Baturetno dan Kodim Wonogiri. Bak-pahlawan (kesiangan). Derita mbah Jinem membangunkan semua kalangan.


Sikap kepedulian dan kejujuran menyuguhkan data penduduk miskin, pra sejahtera; data Lansia dan lainya.

Dalam kasus Mbah Jinem ada missing link, Cutting Information, missing comunication antara rakyat dengan wakil rakyat dan pejabat.

Derita Mbah Jinem mengagetkan pelayan rakyat. seolah terjadi Gempa. KOK BISA??? Kemana para Tetangga; Ketua RT, Kadus, Kepala Desa ? Jauhkan rumah mBah Jinem dengan tetangga ?


TIDAK! Sekali lagi TIDAK! Jarak rumah Nenek tetangganya hanya 10-15 m. Dengan jalan raya Solo-Pacitan hanya 250 m; dengan RS PKU Muhammadiyah Batu hanya 500 m. Kenapa sampai setahun seperti tak terurus? Di tempat lain, anak kecil masuk angin dibawa ke Puskesmas saja, tetangga sibuk besuk.

Suami mBah Jinem, Mariman tidak punya biaya. Punya KIS tapi tidak bisa memakainya. Juga merasa khawatir biaya pengobatan membengkak.

Mbah Jinem sakitnya takterbagikan. Bahkan cenderung menutupinya. Ketika mencari kayu, sebagian wajahnya ditutupi dengan kacu (saputangan). Hingga viral di media on line, dan menjadi liputan wartawan koran dan TV.

Mbah Jinem akhirnya dievakuasi ke RSUD dr SMS.Mbah Jinem memberi hikmah. Silaturahim dengan tetangga. Hal laporan tidak hanya “Didengkuli” asal bapak senang. Bahwa fakta kebenaran dan keadilan takbisa disembunyikan.
(Catatan Anang Gusdur)