Deklarasi Relawan Bintang 9 Disesalkan Orang NU

1 143
 (tengah baju putih) Abdul Aziz Mahfuf diapit oleh (kiri) Cabup Joko Sutopo dan (kiri) Edi Santosa SH pasangan calon Bupati Wonogiri yang diusung PDI-Perjuangan dan Nasdem serta didukung P Golkar
(tengah baju putih) Abdul Aziz Mahfuf diapit oleh (kiri) Cabup Joko Sutopo dan (kiri) Edi Santosa SH pasangan calon Bupati Wonogiri yang diusung PDI-Perjuangan dan Nasdem serta didukung P Golkar
INFOWONOGIRI.COM-NGADIROJO-Beberapa orang yang dianggap sesepuh Nahdlatul Ulama (NU) Wonogiri mendeklarasikan diri sebagai relawan Pasangan Calon (Paslon) Bupati-Wakil Bupati Joko Sutopo-Edi Santosa SH.
Mereka mengatasnamakan sebagai “Relawan Bitang Sembilan” dideklarasikan di Sabtu (29/8) di rumah Slamet Titoti alias Gundul bos rumah makan Bakso Titoti di Brubuh Ngadirojo Wonogiri.
Adalah Abdul Aziz Mahfuf (Gus Aziz). Gus Aziz tidak lain Ketua MUI Wonogiri yang juga mantan Ketua PCNU Kabupaten Wonogiri, dan kini sebagai pengurus inti NU Wonogiri. Gus Aziz juga pemimpin Ponpes Mambaul Hikmah Kalikatir Selogiri Wonogiri.Muhammad Munir pensiunan Sipir Rutan Wonogiri, Eko Pramursito, Nahdi Sunardi, Saefudin Arifin Jatisrono, Agus Kurnianto, Bambang Kusparwanto dan Zaenal Mustofa serta Masrukin guru MI Wonokarto Wonogiri Kota.
Abdul Aziz menyatakan dengan dideklarasikan Relawan Bintang Sembilan, dia berharap wong NU mendukung dan memilih Paslon Joko Sutopo/Edi Santoso. Tetapi itu pernyataan pribadi Gus Aziz.
Alasan, katanya Jekek-Edi sebagai Paslon paling bisa membawa Islam Nusantara dan Islam rohmatallilalamin, dan menjunjung tinggi kebinekaan (Bhineka Tunggal Ika). “Ini saya pribadi sebagai Abdul Aziz dan sebagai warga Wonogiri,” katanya.
Sementara Nahdi Sunardi berpidato mewakili Nahdliiyin menyatakan, bawha selama ini Ahlusunah Waljamaah dipermainkan dan dijual murah di mana-mana oleh oknum tertentu, sehingga membuat masyarakat bimbang/bingung memilih pemimpin.
“Lahirlah kampanye hitam satu sama lain. Terjadi pembunuhan karakter. Seolah sebagai calon bupati mantan preman, tidak ada kebaikan sedikitpun. Manusia tidak cukup dilihat hari ini saja,” kata Nahdi Sunardi.
Sunardi juga menceritakan latar belakang sahabat nabi Umar Bin Khotob dan Kanjeng Sunan Pandanan. “Mudah-mudahan calon bupati kita seperti Sunan Pandanaran. Kita tidak bisa menjastifikasi, itu bid’ah, ini dosa, itu sesat,” kata Nahdi.
Sementara Abah H. Budiono tokoh NU Kecamatan Girimarto sangat menyesalkan sikap sesepuh NU tersebut. Tokoh-tokoh NU yang mendeklarasikan sebagai pendukung salah satu Calon Bupati dinilai sebagai sikap picik dan sempit.
Sikap tokoh NU itu menunjukan tidak rohmatallillalamin. Seharusnya tokoh NU netral tidak berpihak ke calon Bupati/Wabup siapapun. “Kami menyesalkan tokoh NU mendeklarasikan dan mendukung salah satu calon Bupati. NU harus netral,” kata Abah Budiono. (baguss)